pertemuan atau apapun yang dinamakan bangunan yang dibuat manusia. Oleh karena Gandhi yang memprakarsai pertemuan, maka orang-orang yang diundang harus mencari sendiri di mana Gandhi berada, lalu duduk melingkarinya. Dan siapa saja yang tak memperoJeh undangaan, bermawas diri pergilah menyingkir. Meski tidak ada undang-undang yang melarangnya hadir. Juga tidak ada kewajiban bagi terundang untuk hadir. Karena pertemuan tidak memerlukan kuorum.
Di alam barzakh, ramai tidaknya suatu pertemuan dihadiri peserta tidak tergantung pada siapa yang mengundang. Tradisi rasa segan atau ingin pada pengundang tidak berlaku. Apalagi sifat pengkultusan pada seseorang, sangat bertentangan dengan sifat alam barzakh. Bahkan sejak di dunia sebenarmnya, kultus individu itu sudah bertentangan dengan kodrat alam. Maka yang terpenting di alam barzakh ialah topik yang akan dibicarakan, di samping tepatnya tokoh-tokoh yang diundang. Maka adalah tidak mengherankan apabila seringkali yang bernama pertemuan itu tidak dihadiri oleh seorang terundangan pun. Misalnya ketika sidang yang diketuai oleh Al Capone atau yang diketuai oleh Jenderal Tojo. Soalnya, pada waktu Al Capone, para bandit yang diundangnya tidak merasa tertarik untuk hadir, karena menuTut mereka di alam barzakh tidak ada suatu benda yang layak untuk dirampoki. Sedangkan ketika Jendera! Tojo, terundang tak hadir karena menduga jenderal itu masih bersifat chanvinistik, sebab topik yang akan dibicarakan tentang bom atom di Hirosima dan Nagasaki. Namun_ karena_ terlanjur Mmemprakarsai, pertemuan yang diketuai oleh masing-masing tokoh itu, terus juga berlangsung dengan tertib, Ketua terus mengetok-ngetok palu, lalu berpidato pada pembukaan, kemudian mempersilakan para peserta mengemukakan pendapat, dan kemudiannya lagi karena tidak ada peserta yang mengemukakan pendapat ketua pun meneruskan pertemuan dengan mengucapkan pidato penutup. Terakhir mengetokkan palu tiga kali ketok. Tok tok tok. Sedangkan orang-orang yang hadir, tapi merasa tidak peserta memandangi ketua yang penuh semangat itu dalam pidato pembukaan dan penutupnya, tak obahnya seperti orang -orang yang lalu-latang di kaki-lima sebuah toko ketika melihat barang -barang yang tak dibutuhkan mereka terpajang dalam etelase.
Pada pertemuan yang diprakarsai Gandhi, yang terjadi malah sebaliknya, Terlalu banyak peserta yang hadir. Sehingga Gandhi sendini _terheran-heran, Akan tetapi ketika ia ingat bawa topik "damai di dunia damai’’ yang memang selau aktual itu, keheranannya hilang. Sungguh pun demikian ia merasa takjub juga demi melihat banyak tokoh perang dan iokoh teroris ikut hadir, Padahal dalam rencananya ia hanya mengundang tokoh-tokch pemenang dan calon pemenang Hadiah Nobel Perdamaian, serta beberapa tokoh yang luput dicalonkan karena kurangnya publikasi atau sebab lainnya. Akhimya ia pikir, banyak di antara mereka itu cuma peninjau saja. Namun bagaimana membedakan peninjau dengan peserta? Ahh, itu tidak sulit, dalam daftar undangan yang dibuat sekretaris akan dapat diketahui juga kelak, simpulnya dalam hati. Tapi sekretaris belum hadir.
Pikirannya itu ia kemukakan ketika menjawab seseorang yang menanyakan kenapa pertemuan masih belum juga dimulai.
— Siapa sekretaris? — tanya seorang yang berkumis tebal membelintang yang kelihatannya tak pernah bisa sabar.
— Chairil Anwar. — jawab Gandhi.
Kumis yang tebal membelin tang itu, tiba-tiba melenting-jenting ketika mendengar nama Chairil Anwar, — Mengapa anarkis krempeng itu jadi sekretaris? Orang itu tak mau aturan, tak mau disiplin. Sama dengan orang sekampung asalnya, Tan Malaka yang tidak berpunggung bungkuk waktu jadi anggota komintern, Sehingga aku pecat dia. —
Kening Gandhi mengerenyit ketika tahu siapa yang berbicara. Dirasanya aneh jika orang itu jadi peserta pertemuan dengan topik "damai di dunia damai”. Tapi kemudian ia pikir, mungkin Chairil punya alasan mengundangnya. Kemudian kata Gandhi: — Chairil aku pilih karena dua alasan. Pertama, ia mengaku jadi ahli waris kebudayaan dunia. Kedua, ia beraliran humanisme universal. Jadi dia berjuang bagi kepentingan dunia seluruhnya. Bukan bagi kepentingan bangsanya saja. —
— Kalau itu alasannya, Martin Luther King mestinya kau ambil jadi sekretaris, Ia penganut ajaran kau, kamrad Gandhi. — kata si berkumis tebal membetintang itu,
Seorang laki-laki yang berkumis sebesar lobang hidungnya serta-merta berdiri. Setelah mengacungkan lengan kanan ke depan, ia pun berkata dengan suara lantang. — Herr Gandhi, kalau Martin Luther jadi sekretaris, saya setuju.
‘Meski ia orang abad ke XVII tapi ia bangsa Aria, Tapi yang mengembelkan King di belakangnya, aku tidak setuju. Karena ia Negro. Antara bangsa Aria dengan bangsa Negro jauh sekali bedanya, Herr Gandhi. Bangsa Aria melahirkan tokoh-tokoh seperti, Engels, Marx, Hegel, Steiner, Nietzsche, Kierkegaad, Schopenhauer, Feurbach: Juga Rontgen, Einstein, Rutherford, Von Braun atau Koch, Freud, Frobel, atau Mann dan banyak lagi. Meski beberapa orang beragama Yahudi, tapi orang Jerman, Heri Gandhi. Seorang dari bangsa Aria, tidak seimbang de
HORISON/XX1/95