nja gelisah menanti2kanku, djuga aku sen- diri; babwa aku harus pula mendjadi pembunuh ini, bukan lagi dalam fiksi, na- mun betul? dalam hidup,
Mas Hari ternjata sedang keluar, Me- urut isterinja hanja sebentar, dan karena- nja aku bermaksud menunggu. Kukatakan aku tak sah dibikinkan minuman, dan ukep berterimakasih asal dibolehkan se- orang diri duduk diruang depan, Aku takut njonja rumah jang sudah kukenal sebagai dojan ngobrol itu ditambah dengan suasana bangat dewasa ini salah2 hanja akan me- njiksaku dengan tjerita2 jang tak karuan sadja.
Wimbadi pulalah jang mula2 muntjul dibenakku, Dia seolah berada dimanapun pandangku kutembakkan, pandangnja ha- Dja punja satu arti: Menantikan keputusan- ku buat benar? mau bertindak sendiri ter- hadap Kuslan, dan bukan keputusan jang banja dibibir. Sungguh, aku djuga sepe- nuhnja membenarkan kata2nja bahwa Sinar Ilahi bukan sekedar kasih-sajang damai mesraan tetapi haruslah diwudjudkan djuga dengan tindakan apapun demi untuk itu, itu aku sudah lama tahu, namun dalam hal tanganku harus membunuh dan ipar- kulah itu tjalon korbannja, itulah jang aku sukar buat menerimanja, melakukannja, Mana bukan mustahil jang sast nanti Kus- lan sudah terkulai penuh kelopak2 luka. Kalaulah ini tjerita-fiksi, tokoh-aku jang sekemelut pengalamanku ini pasti akan ku- buat tega djuga untuk memerankan pem- bunuhannja, meski pada mulanja konflik batin dan intelektualnja akan kubuat be- sar sekali, Buku* seperti Bhagawad Gita jang kukagumi, dimana Krisna mewedjang Ardjuna jang sudah patah karena harus membunuhi saudara? dan gurunja sendiri itu lalu mendjadi bersemangat dalam pe- rengnja. Ataupun ketegasan ajat2 A'quran, dimana Allah mengidjinkan dibalasnja kaum murtad setimpal dengan perbuatan- nia, Atanpun ketika Brutus sampai pada achirnja tega menikam Caesar jang bee'tu mentjintai dan mempertjajainja, demi kehe- naren dan keadilan; semua itu aku ingot taik2, Tetani kembali lagi: Sekali-keli ini butan'ah fiksi, melainkan benar2 soal riil.
Menjusullah - wadjah anak2 lain: Jono, Moel, Edi, Ristam, Danarto serta lain2nja, kessmua mereka bersembunji atau terang?- an berkitaran dirumah adikku Jajuk, ber- gelisah resah menantikan kedatanganku. Ah, tetapi mereka itu memang anak? muda belia, emosinja masih mungkin untuk sam- pai djauh meninggalkan rasio mereka. Berpikir banjak2 adalah tabu buatnja, di- masa jang sebalau-katjau sekarang ini. Minat mereka akan djiwa orang lain ka- takanlah sudah terbawa oleh melajangnja banjak kurban? jang berdjatuhan setiap hari achir2 ini, Bagi mereka sekarang ini kriterium kebenaran dan kedewasaan sese- orang bukan lagi terletak pada bertimbunnja
Pengetahuan maupun tindakan2nja, tapi se- mata2 pada bersedia membunuh atau tidak, itu. sadja: Bersedia mengachiri periode bermanusianja manusia? lain demi penega- kan kemanusiaan bagi manusia2 lainnja pula. Mereka hanja ingin lihat perbuatan, dan itu terutama kesediaan buat membunuh lawannja, dan lain tidak lagi!
Baru kusadari bahwa Kansasku tinggal beberapa batang lagi. Perutku tiba2 terasa amat mulas, Tapi mas Huri Sumardjo tidak djvga muntjul. Aku kuwatir djangan? pa- mitnja pada mbakju jang untuk pergi se- bentar itu djuga akan lama seperti aku sendiri ini, dan ini hanja makin memules- kan perutku sadja, Aku permisi kekamar- ketjil dibelakang dengan keburu-buru, tak perdulj bahwa njonja rumah kulihat sam- pai tak bisa menshan ketawanja lagi.
Didelam w.c. kembali film chajalanku berputar dilajar-benakku: Fragmen? pen- dek dan liar, Bermuntjulanlah orang? jang benar? orang maupun jang hanja tokoh® karya sastra: Ardjuna, Aidit, Brutus, Untung, Wimbadi pembrontakan PKI ta- hun 48 dulu, Iqbal, Sastro, Kuslan, Jajuk, Camus, anak2ku, anak2 Jajuk, ibuku; tjampur-aduk mengalahkan rudjak-tjampur,
Dan bukankah ini tragedj njata daripada politik jang semestinja berarti memper- djoangkan tertjiptanja kondisi? manusiawi jang ideal buat seluruh manusia, lewat per- djoangan jing berperikemanusiaan, tapi se- bab pendurhakaan dan kefanatikan jang ambisius maka buah-eksesnja adalah djustru pengkotak kotakan dan pengojak2an manu- sia daripadja totalitasnja jang bermartabat, berbunuh2an dalam kekerdilan dan keben- tjiannja jang tidak lain disebabkan sudah membuang kemanusiaannja sendiri dengan rela? Inilah inilah eksesnja bilamana po- litik jang hanjalah alat sudah merupakan tudjuan, dan setjara paksa ditantjepkan diatas setiap dan semua bidang kehidupan manusia.
Aku lalu ketjut sendiri: Bagaimana se- anduinja anak? bekas murid2ku jang mene- riakiku ,,Hidup Pak Soesetio” tadi itu sampai tahu, bahwa begini inilah sebenar- nja orang jang mereka tegur dengan lam- baian penuh simpati? Satunja kesjuku- ranku ialah bahwa w.c. ini tadi sedang ko- song dan aku bisa langsung masuk tanpa tunggu? lebih dahulu. Sedang air dibaknja penuh, lagi pula gajungnja tidak sedang diluar, Tapi djuga fasilitas ini tidak banjak menolongku daripada lindasan2 didiriku jang laknat ini.
»Ah, terserahlah”, sahutku pada diri- sendiri dengan setengah menjereh, ,,tapi apa tjoba, pertimbangan mas Hari nanti".
IV
Ketika aku keluar, mas Hari Sumardjo ternjata sudah menantikan diruang depan. Bersarung serta berkopjah itu dimataku dia tampak lebih tua daripada biasanja, atau
sangat mungkin hal ini semata-mata sebab aku sendiri tidak dalam keadaan Jang se- tenang dia, Matanja jang lembut menjong- songku, kedua tangaanja merentang distas galur kursi pundjangnja. Keringat dari hepergiannja masih kulihat pada dirinja,
,,Masa’ sekarang perlu uangnja?" tegur- nja. Kan masib lima to dik, pementasan- ojo?” Senjum serta wadjahnja bersinar lembut seperti biusanja,
,,Aduuuh, bukan itu Mas”, sabutku terus duduk dihadapan dia,
Kuharuskan diriku buat sedikit lebih te nang, tapi tanganku jang mengatasi pun- tjak kursi pandjang itu dva*nja tak bisa kuténtramkan. Begitupun djari* tangon ka- nar jang mengapit rokok Kansas jang se- ringan itu, djuga aku sendiri melihainja bahwa tiba® gemetaran. Mata tuan rumah sedikit melotot ketika menjaksikannja.
,,Ada apa si dik, kelihatannja kok ......" ,,Begini Mas", tukasku, dan setjara tje- pat?an kuberondongkan kepadenja apa? jang kualami setelah pulang dari pembi- tjaraan dengan dia selama ber-djam? be- berapa djam jang lalu, dan lalu kususulkan pula makian kenapa anak? itu tidak mau memberesinja sendiri sadja dan baru mem- beri tahukan padaku urusan helakangnja nanti,
Didengarkannja aku dengan baik sambil melinting rokok, jang tanpa ia silahkan Jalu kuikuti, jaitu setelah setengah rokok- ku kubuang dalam gugup. Kesabaran dan ketenangannja sungguh membuatkan sema- kin gelisah.
,,Ja sudah to, kalau memang sudah tak- dir dik Soesetio buat membunuh suami dari adik kandung, mau apa lagi? Pertama- tama, saja kok tidak jakin bahwa adik tidak bisa menolak. Itu bukan hukum, malahan hukumlsh bahwa orang berhak menolak pengangkatan dirinja mendjadi pembunuh itu”.
,,Tapi inilah kenjataannja", sahutku se- tengah marah. ,Aduh Mas, kalau sadja Mas Hari lihat bagaimana wadjah Wim- hadi tadi itu. Dan saja jakin begitu pulalah kawan2nja semua. Dan saja lebih jakin bahwa itu akan buat selamanja mereka tun- djukkan padaku, apabila aku tidak meme- nuhi ini”.
,,Baiklah, taruhlah itu sudah tak tere’ak- , kan, Tapi heran saja, kenapa dik Soes melihatnja musti dari sana, dan tidak dari segi lain bahwa Kuslan adalah oknum ke- batilan sedang adik sendiri dari pihak Ke- benaran ? Dan bukankah sudah betul Quran jang adik sitir tadi itu, bahwa kita Allah benarkan buat membalas perbuatan kaum murtad sesuai dengan perbuatannja ?”
,,Mas, ini bukan untuk saja tuliskan da- lam karangan Iho, Tapi betul-betul untuk saja kerdjakan dipentas kehidupan riil ini, Apa itu...." ......bukan reficksi daripada kehidupan njata ini? Atau balikkan: Apakah isi tu-
HORISON / 76