Lompat ke isi

Halaman:Horison 02 1985.pdf/7

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini belum diuji baca

WARNA LOKAL MINANGKABAU DALAM SASTRA INDONESIA MUTAKHIR A.A. NAVIS Pendahuluan

Istilah "wama lokal" saya peroleh dari Drs. G. Termoshuizen, salah seorang juri Sayembara Kincir Emas 1975 dalam pidato pemberian hadiah kepada cerpen saya jodoh di Hilversum tahun 1976. Kata- nya: Cerpen Jodoh memiliki warna lokal yang ti- dak akan ditemui di tempat lain ..... "Maksudnya ia-- lah latar belakang sosiologis yang memberikan warna yang berbeda jika ditulis oleh pengarang dari suku bangsa lain, meski tema dan jalan ceritanya sama.

Makna warna lokal juga berbeda dengan keingi nan HB. Yassin dalam Analisa, Sorotan Atas Cerita Pendek yang menghendaki keragaman latar belakang atau tempat kisah bermain. Katanya: "Bagi para pe- ngarang sungguh masih banyak daerah yang belum dijelajah. Untuk menyebutkan sebagai contoh: kehi- dupan penyelam mutiara di sebelah timur kepulauan kita, kehidupan di tambang-tambang minyak tanah dan batu bara, kehidupan suku bangsa terpencil jauh di pedalaman seperti di pegunungan Kalimantan, ke- hidupan para nelayan mencari nafkah di tengah laut, alam dunia juru terbang yang kini mengarungi udara kita. Kita tak kehabisan bahan dan persoalan". Yang dimaksud Yassin itu ternyata memang diikuti oleh banyak pengarang masa itu. Misalnya Kirjomulyo dalam lakon Penggali Intan dan Penggali Kapur. Bur Rasuanto dalam Bumi yang Berpeluh. Atau berbagai cerpen yang ditulis Aris Siswo, Motinggo Busye dan sebagainya.

Apa yang saya maksud kiranya dapat dijadikan contoh antara dua karya yang temanya sama serta judulnya mirip. Yaitu antara novel Perjanjian dengan Iblis dari Vincent Bennet dengan Perjanjian dengan Maut dari Harijadi S. Hartowardojo. Pada kedua no- vel itu ditemui dua pelaku yang sama membuat per- janjian dengan menggadaikan nyawanya masing-ma- sing kepada setan untuk memperoleh apa yang dici ta-citakan mereka. Si petani Amerika ingin jadi ka- ya, sedangkan si pejoang Indonesia ingin keselama- tan perjoangannya. Keduanya memperoleh apa yang mereka maui. Si Amerika menjadi kaya dan si Indo- nesia menjadi kebal. Ketika masa perjanjian telah ha- bis, si Amerika mencari seorang pengacara untuk membatalkan perjanjian itu dan iblis dapat dikalah- kan. Sedang si Indonesia pergi minta tolong pada ulama dan kemudian pada pastor agar dimintakan pada Tuhan supaya bisa bebas dari sumpahnya. Ula- ma atau pun pastor tidak bisa menolong. Tapi oleh kebaikan hati Nyi Loro Kidul tempat ia menyatakan sumpahnya, ia tidak jadi mati meski diberondong peluru. Pada kedua novel itu peristiwanya bisa terja- di di mana saja. Akan tetapi sikap alam pikiran anta- ra si petani Amerika dengan si pejoang Indonesia ha- nya bisa berlaku pada masing-masing manusianya. Keduanya merupakan kisah yang berlatar belakang irrasional. Namun Vincent Bennet menyelesaikan- nya secara rasional dengan menggunakan hukum yang menjadi pegangan kokoh dalam masyarakat Amerika. Sedang Harijadi menyelesaikannya secara Indonesia, kepasrahan total pada takdir, meski si pe- laku adalah pejoang yang gagah berani.

Pilihan atas novel yang mempunyai warna lokal Minangkabau, ialah dari asal usul pengarangnya. Se- lanjutnya dalam hal mengenali nama pelaku serta na- ma sebutan panggilan yang digunakan. Umpamanya pada novel Hati Nurani Manusia dari Idrus, meski ce- rita bermain di Jakarta, akan tetapi pelaku-pelaku menunjukkan nama Minangkabau. Umpamanya na- ma Pian, Bey dan Pri adalah nama singkatan menu- rut kebiasaan Minangkabau. Pian nama asalnya So- fyan, Bey kelaziman untuk pengganti nama Buyung dan Pri untuk Syafri. Ketiganya dengan perempuan bernama Halimah merupakan orang-orang yang mempunyai hubungan kekerabatan. Demikian pula nama atau panggilan dalam novel Hilanglah si Anak Hilang dari Nasjah Djamin yang ceritanya bermain juga di Jakarta, terdapat panggilan Utih bagi paman-
HORISON/XIX/43