sejengkal warisan amang +
Oh, tak pernah bertambah Bapa
Terus dikuras!
Kurus
Terus dikuras!
(7)
Genderang angin timur tergantung
di tangkai-tangkai bunga mangga
Getarannya yang resah menggugurkan
putik-putik bersemi di sana
Sahabat,
haruskah sisa-sia tajuk mahkota-Mu
pada rumputan yang kerontang ini?
Bunyi tekukur yang tunggal
jadalah ratapan yang tunggal pula
Oh, betapa sakit rindu kami tatkala
yang terakhir suaranya Kauredamkan
įpada tangisan seribu mangga muda
yang berderai berguguran
Gemanya mencabik-cabik
layar-layar penantian kami
yang tiada lagi berkibar
(8)
Wajah negeri kami sudah berganti
Penuh hiasan hasil teknik mutakhir
Tapi aku masih terkesan pada si primitip
yang tak pernah sanggup membeli lipstik
Unilah tampang desaku yang belum berganti
dan wajah ibuku yang belum berlipstik
Eh, Gusti!
Izinkan aku tetap berpuisi
tentang ibuku yang primitip
dan desaku yang tak berlipstik
Izinkanlah ya Gusti
Tunjukkan padaku wajah-Mu yang asli!
(9)
Ekor senja masih tersisa di alis dirgantara
Tua sudah ibuku menatap muram
sisa-sisa bunga hatinya pada mataku
Mestikah aku memikul kesia-siaannya?
Esok mentari akan terbit tanpa dia
Aku pun harus berlangkah pada risau
sejuta kenangan akan dia
Lantaran padaku tersisa hatinya yang tua
sepotong ekor senja ibuku yang galau
Akan kupikul, Sahabat
demi darahnya yang tercecer padaku!
(10)
Tembok-tembok waktu-Mu yang
mengungkung aku sejak pagi ini
tiba-tiba runtuh bersama angin timur,
yang kecut memburu sisa-sisa
daun ketapang yang ranggas
Menantikah artinya berdiam diri
dalam jaringar. waktu-Mu begini?
Dan Kau menyuruh aku menanti lagi
sementara waktu-Mu mengalir pergi. Ah!
(11)
Derai angin selatan tak kuasa
memisahkan aku dari waktu-Mu
Mestikah daun belimbing gugur dahulu
baru kutahu waktu-Mu berlalu?
Seharusnya kita bertemu dalam waktu-Mu
Lantas dalam apa kita berpisah?
Ketika Kau membikin aku lelap
lenyaplah waktu-Mu dari sampingku
Inilah perpisahan itu:
Satu kealpaan dalam waktu-Mu. Oh!
(12)
Sepotong wajah-Mu terpahat di lengang langit
Ukurannya cuma selebar waktu-Mu
Tapi kekalnya abadi sepanjang ada-Mu
Tatkala sehelai sayap burung elang
terlepas terbang melayang menukik bumi,
langit yang lengang didesak kesangsian:
Beginikah nasib kami yang dijaring waktu-Mu?
Tiada yang abadi. Duhai!
(13)
Waktu-Mu ternyata bukanlah segala-galanya
HORISON/XVIII/87