Lompat ke isi

Halaman:Horison 02 1967.pdf/3

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca


TJATATAN KEBUDAJAAN


PERSOALAN DAJA KREATIP

Dalam tulisannja jang berdjudul „Asal usul aliran filsafat eksistensialisme dan pengaruhnja ter-hadap kesusasteraan modern Perantjis", M.T. Zen antara lain menulis:,,Para pengarang di Indonesia kiranja djangan hanja sampai kepada taraf 'verhaaltjes schrijven' sadja sebagai mana dikatakan oleh Sjahrir..." Masaalah jang diadjukan M. T. Zen disini djelas adalah masaalah daja kreatip.

Kalau kita memandang kesekeliling kita, memperhatikan kegiatan-kegiatan seni, maka tidak bisa tidak kita akan sedikit bersedih. Masih segar dalam ingatan kita karja-karja pengarang Angkatan 45, diskusi-diskusi senilukis jang mendalam antara Oesman Effendi dan Basuki Resobowo, pementasan-pementasan tahunan ATNI dengan drama-drama jang bermutu atau pentjiptaan-pentjiptaan lagu-lagu seriosa jang baik dalam senisuara. Pada saat inipun kegiatan-kegiatan tersebut tidak berkurang: tjukup banjak karja-karja sastra, pameran-pameran senilukis djuga kerap diadakan, pementasan-pementasan drama TV diselenggarakan sebulan sekali dan band-band musik tumbuh bagai djamur. Tapi kita bersedih atas mutunja. Dibidang sastra, orang jang paling optimispun seperti H. B. Jassin, jang tidak mau mengatakan bahwa mutu kesusasteraan Indonesia mundur, tidak berani menjatakan bahwa mutu kesusasteraan pada saat ini lebih madju dari karja-karja sastra Angkatan 45. Bahwa setelah sekian puluh tahun kita tidak madju, ini berarti suatu kemunduran. Dan hal ini tidak hanja terdjadi pada bidang sastra sadja, tapi tampaknja djuga mendjangkiti tjabang-tjabang seni lainnja. Apa gerangan sebabnja?

Ada banjak pendapat mengenai hal ini. Ada jang mengatakan seniman kita kurang latar belakang filsafat. Filsafat chususnja filsafat anthropologi memberikan kesadaran bagi siseniman tentang fungsi dirinja dan arti pentjiptaannja. Di Eropah misalnja, seorang pelukis jang tampaknja ,,emosionil" seperti Van Gogh, dari tjatatan-tjatatan hariannja ternjata adalah seorang pemikir teoritis jang tjukup berat". Belum lagi kita bitjara tentang seorang Picasso, atau Kandinsky. Kesadaran intelektuil tampaknja mengangkat siseniman dari tarafnja jang primitip dimana pentjiptaan hanja sekadar spontanitas insidentil, kesuatu taraf penghajatan nilai-nilai setjara sadar. Barangkali ini pula sebabnja mengapa seniman-seniman Indonesia (terutama sastrawan) pendek napas"nja, seperti jang disinjalir oleh Trisno Sumardjo. Karena mereka kurang menjadari sepenuhnja apa fungsi dirinja dan arti pentjiptaannja bagi kemanusiaan.

Tapi ada jang membantah pendapat ini. Menurut mereka, tak ada hubungan antara pengetahuan intelektuil dengan daja kreatip. Lihatlah Affandi misalnja apakah dia seorang intelektuil dan kurangkah daja kreatip padanja? Menurut mereka soalnja adalah soal ekonomi di Indonesia, karena seniman tidak bisa hidup dari karjanja, maka kegiatan seni hanja sampai pada taraf hobby sadja. Begitu mereka dewasa dan harus memikul beban kehidupan, mereka meninggalkan kegiatan seni. Seniman jang tetap tinggal seniman ialah mereka jang dapat mentjari penghasilan dari karja-karjanja. Tjontoh-tjontohnja banjak-lihat sadja Affandi, pelukis-pelukis Istana, pelukis-pelukis Bandung dan banjak lagi lainnja. Kesusasteraan djustru jang paling merana karena bila dalam bidang seni lukis masih mungkin orang hidup dari lukisan-lukisannja, hampir tak mungkin seseorang hidup hanja dari hasil-hasil tjerpen atau puisinja.

Pendapat inipun dibantah lagi. Karena dalam kenjataannja, banjak seniman-seniman kreatip jang hidupnja sangat miskin. Bahkan kenjataan menundjukkan pula, bahwa mereka jang berpenghasilan dari karjaseninja, banjak jang mengalami kemunduran-kemunduran jang fatal dalam mutu karjanja. Apa jang tinggal benar pada seniman profesionil itu ialah bahwa mereka djadi makin produktip. Orang-orang jang membantah teori sebab ekonomi" ini mengadjukan pendapat bahwa masaalah daja kreatip adalah masaalah kepribadian masing-masing orang-artinja sulit atau mudahnja seseorang tergugah oleh alam sekitarnja dan kesanggupan mengolah apa jang menggelora didalam dirinja mendjadi pernjataan-pernjataan seni. Djadi masaalahnja adalah masaalah bakat.

Tampaknja persoalan daja kreatip ini adalah masaalah kompleks dimana banjak faktor turut berperan. Jang terang kita semua ingin memetjahkan persoalan ini. Salah satu fungsi dari ruang kritik dan esei dalam madjalah ini ialah memberi latar belakang intelektuil pada para seniman kita. Apakah dia akan berhasil merangsang daja kreatip para seniman, masih tergantung dari banjak faktor lain.


SOE HOK DJIN

HORISON/35