Lompat ke isi

Halaman:Horison 02 1966.pdf/28

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini belum diuji baca

tumpuk uang kertas disediakan dihadapanku. Itulah hidup!

Umumnja orang miskin ingin tjepat dilahirkan kembali, sedang jang senang ingin mendjadi setan selama mungkin. Kaum jang senang ingin mendjadi setan selama mungkin sebab hidup mereka selama mendjadi setan (kata ini kedengarannja berlawanan sekali tapi aku tak menemui tjara pengutjapan jang lain) merupakan kelandjutan dari hidup sebagai manusia dan mereka belum djemu akan hidup itu. Tentu sadja ada penguasa jang keras dan berdisiplin jang mengatur soal pendjelmaan ini tetapi mereka djuga akan menerima hadiah sogokan dari setan kaja tersebut, seperti halnja pembesar jang baik didunia ini.

Kemudian ada golongan jang berpikir lebih sederhana, jang tak pernah berpikir tentang kematian meskipun kematian sudah diambang pintu, dan aku termasuk golong- an ini. Tiga puluh tahun jang lalu ketika masih mahasiswa kedokteran aku berpikir tentang adanja djiwa, tetapi tak mengeta- hui kelanjutannja. Belakangan aku berpi- kir apakah mati itu sakit atau tidak, dan menjimpulkan bahwa hal itu ber-beda menurut tjara matinja Kemudian aku ber- henti berpikir. Selama sepuluh tahun be- lakangan ini aku sering menulis tentang kematian teman, tetapi tak pernah me- ngenai diriku sendiri. Dua tahun bela- kangan ini aku sering sakit dan sakitnja ugak parah, sehingga mengingatkan aku akan kelandjutan usiaku.. Tentu sadja aku sering diingatkan tentang usia-tuaku ini oleh pe- ngarang2 lain, sesnai dengan rasa persaha- batan mereka atau rasa permusuhan mereka.

Sedjak tahun jang lalu bila sedang ber- baring dikursi rotanku setelah sembuh dari sakit, aku berpikir tentang apa jang harus kulakukan bila telah sehat, artikel apa jang harus dikarang, buku apa jang harus diter- djemahkan atau diterbitkan.

Rentjana kutentukan, dan kuachiri de ngan:,,Baiklah tetapi aku harus buru2". Perasaan buru ini, jang sebelumnja tak pernah kurasakan, menundjukkan bahwa setjara tak sadar aku teringat akan usia- ku. Tetapi belum djuga aku berpikir se- tjara langsung mengenai kematian".

Baru tahun ini ketika sakit agak parah aku berpikir tentang kematian. Pada mulanja aku mengobatinja seperti dulu2 sadja, me- njerahkannja kepada dokter Djepang te- manku, S. Meskipun bukan seorang spesialis tuberculosis ia kaja dengan pengalaman dan mengenalku dengan baik karenanja ia bitjara dengan terus terang. Tentu sadja, meskipun betapa baik hubungan seorang dokter dengan pasiennja, tentu ada sedikit jang dirahasiakan tetapi se-kurang2nja tiga kali ia pernah memperingati aku meskipun aku sendiri tak pernah menghiraukannja atau mentjeritakannja kepada orang lain. Mungkin sebab penjakitku telah larut dan serangan jang terachir begitu berbahaja, maka beberapa teman tanpa setahuku me- ngundang seorang dokter Amerika D untuk memeriksa. Dia seorang dokter ba rat spesialis tuberculosis satu-nja di Shang- hai. Setelah selesai memeriksa, meskipun ia memudji daja tahanku sebagai bangsa Tionghoa, ia mengatakan bahwa saatku te- lah dekat, dengan tambahan bahwa djika aku seorang Eropa pasti aku telah tiada sedjak lima tahun jang lalu. Pernjataan ini membuat teman2-ku menangis. Aku tidak minta agar dia mengobatiku sebab sebagai seorang jang dididik setjara Barat tentu dia tak dapat mengobati orang jang telah lima tahun mati. Tetapi hasil pemeriksaan Dr. D-sesungguh-nja tepat sekali. Belakangan aku mengambil potret sinar X pada bagian dada dan semua hasil pemeriksaannja ter tera disitu.

Meskipun aku tidak terlalu memperbati kannja, hal itu agak mempengaruhi djuga: aku menghabiskan waktuku dengan berba- ring, tanpa kekuatan untuk berbitjara atau membatja dan tak tjukup kuat untuk me- megang sebuah surat kabar. Sebab batiku belum dapat,,setenang sebuah sumur tua", aku terpaksa berpikir, dan kadang aku ber- pikir djuga tentang kematian. Tetapi bukan berpikir,,dua puluh tahun jang akan da tang aku akan mendjadi pendjahat lagi" atau berpikir bagaimana aku dapat mem- perpandjan hidupku dalam peti nanmu, melainkan pikiranku mengembara pada hal mendjelang kematian. Baru sekarang aku merasa pasti bahwa orang takkan ber- ubah menjadi setan. Timbul pikiran un- tuk menul s surat warisan dan aku ber- pikir: Bila aku seorang besar dengan ba njak kekajaan, putera2ku, menantu ku dan jang lainnja pasti telah menjuruhku mem- buat surat tsb. sedjak dulu2; tetapi seka- rang belum ada jang mengingatkannja kepa- daku. Meskipun demikian aku akan mem- buatnja sebuah. Aku berpikir tentang be berapa hal jang akan kupesankan pada ke luargaku, diantaranja ialah:

  1. Djangan menerima satu senpun untuk ongkos penguburan. Ini tidak berlaku bagi sahabat lama,
  2. Kerdjakan semuanja dengan tepat, kuburlah aku dan semuanja selesai.
  3. Djangan lakukan upatjara peringatan
  4. Lupakan aku dan uruslah urusan kalian sendiri ― bila ini tidak kalian lakukan, bodoh sekali.
  5. Bila anak telah dewasa dan bila mereka tidak punja keahlian suruh mereka melakukan pekerjaan ketjil untuk mendapatkan pentjaharian. Djangan menjebabkan mereka mendjadi pengarang atau seniman dimulut sadja.
  6. Djangan terlalu pertjaja akan djandji orang lain.
  7. Djangan bergaul dengan orang jang menjakiti orang lain tetapi menentang pembalasan dendam dan mengandjurkan toleransi,

Disamping itu ada beberapa hal lain jang aku lupa. Aku djuga ingat ketika demam, terbajang kebiasaan orang" Eropa jakni diambang kematian mereka mengadakan se matjam upatjara dimana ia minta maaf pada orang lain dan memaafkan orang lain jang bersalah padanja. Sekarang aku mempunja banjak musuh dan apa djawab anku bila ada orang modern jang mena njakan pendapatku mengenai itu? Setelah berpikir selama sedjenak aku memutuskan: Biarkan mereka terus membentjiku. Aku djuga tidak ingin memaafkan seorang pun dari antara mereka itu.

Untung tak ada kebiasaan sematjam itu dan aku djadi tidak usah menjinggungaja dalam pesan.

Aku hanja berbaring dengan tenang, ka- dang diganggu oleh suatu pemikiran jang menekan.

Bila ini proses kematian, sesungguhnja itu tidak sakit. Mungkin pada achirnja ti dak seperti ini benar, tetapi meskipun be- gitu sebab hanja sekali dalam hidup aku alami hal itu, aku akan dapat menghada- pinja. Kemudian datang perbaikan Dan sekarang aku berpikir apakah ini be- nar2 perasaan jang timbul sebelum adjal seorang jang benar2 akan meninggal barang- kali tidak memikirkan itu. Apa jang se sungguhnja akan terdjadi, aku sendiri ma sih belum tahu.

5 September 1936. Dari Selected Works of Lu Hsun. vol-4 Alih-basa : Boen 1. Djudul asli: Death


PAPAN NAMA PLASTIK selaras dengan keindahan untuk RUMAH TOKO KANTOR DIAWATAN dll. Sementara tidak menerima pesanan dari luar kota. PUSTAKA ORION SAWAH BESAR 2-i DJAKARTA V/14HORISON / 60