Lompat ke isi

Halaman:Horison 01 1985.pdf/12

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

ri rumah saya. Hampir semua penghuni Kompleks Wartawan di Cipinang Muara datang berkunjung. Ti- dak pun suami-istri maka tentu suami saja, atau nyo- nya saja. Demikian pula beberapa wartawan media massa lain, dan tidak ketinggalan juga para bekas wartawan KAMI yang lain.

Ada keterangan tersendiri, mengapa Bastari mem beri kaset Mocopat itu,

Beberapa hari sebelum itu, suatu siang, saya ikut jip Bastari. Dia baru mau berangkat ke kantor, kare- na paginya rupanya dia main tenis bersama rekannya sekantor, Di dalam jip saya menjawab bahwa ingin beli kaset-kaset Tembang Jawa, Bastari berkata bah- wa di rumahnya ada tiga buah kaset Tembang Jawa, yang dia rela andaikata saya mau mengambilnya.

Kok tumben, bagaimana asalnya kaset-kaset itu di rumahmu?”

"Ya, semula saya mengantar seseorang. Dengar- dengar kok enak,”’ jawab Bastari setengah tersenyum -simpul, Lalu saya beli, satu. Lain kali saya ngantar lagi, kok makin enak. Lalu beli dua. Tapi lama-lama kalau saya dengarkan lagi, kok tidak enak lagi,” sam- bung Bastari, kali ini lalu ketawa cukup lebar.

Saya pun ikut tertawa. Tapi lebih karena mau mendapatkan tiga kaset Jawa, secara cuma-cuma itu.

Di dalam jip, kami bicara asal bicara. Antara lain bahwa dia akan ke Bandung, dan ingin tahu di mana bisa menginap dengan enak. Saya katakan padanya, di kantor Tempo saja. Sebab Budiman 8, Hartoyo pernah menawari saya, meskipun jadinya saya tidak tidur di sana. Selain itu, di sini saya baru ingat kem- bali, sekarang, Bastari saat itu juga menyinggung soal kesehatan orang yang sudah di atas 40 tahun. Sudah Mmacam - macam yang dikeluhkan. Karena itu orang harus rajin berolahraga. Dia sendiri rasa-rasa- nya sudah harus siap kalau-kalau tidak lama lagi sisa hidupnya. Dia cemas bahwa tidak mencapai tahun 2000, kalimat yang — kini saya ingat — saat itupun saya ketawakan.

"Umurmu berapa sih, Bas? Kalau akulah, yang bicara itu, agak pantas. Apalagi aku kan sudah pu- nya empat macam penyakit. ” Kata saya.

Siang itu, saya jadinya ikut dia sampai ke Pasar Senen. Dan kami lalu berpisah.

Beberapa sore kemudian saya datang ke rumah- nya, khusus buat mengambil kaset-kaset itu. Ternya-

ta Bastari hanya memberi saya sebuah saja, karena.

yang dua lagi sudah tidak ada di tempatnya. Moco- pe ae terima dengan lega. Disertai ucapan terima- Akan tetapi, agaknya itulah malam terakhir saya berbicara dengan Bastari. Arjuna itu saya kenal cukup baik, dan cukup membekas dalam rekaman ingatan saya. Kulitnya yang kuning. Senyumnya yang khas. Bicaranya yang

si

Ed Zulverdi

SER. Mesa A, Bastari Asnin

lirih, pribadinya yang pemberi, Rambutnya yang hi- tam serta di atas sernua itu: cerpen-cerpennya yang banyak *mengumandangkan” sepi.

Selamat jalan, Bastari! ***

SATYAGRAHA HOERIPHORISON/X1X/12