Lompat ke isi

Halaman:Horison 01 1968.pdf/4

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

lain-lain. Mereka, seperti orang-orang jang terdahulu lahir itu, adalah pertanda kegelisahan masa transisi.

Demikian pula kita sekarang. Bedanja ialah: bahwa mereka tidak sadar, sedang kita oleh pengalaman diharuskan untuk menjadari kebimbangan zaman ini, kebimbangan kita sendiri, kebimbangan masjarakat disekitar. Bedanja ialah: mereka berada dalam titik optimisme jang tinggi mendjelang dan segera sesudah kemerdekaan, sedang kita telah mendjalani kenjataan-kenjataan, bahwa harapan-harapan setelah kemerdekaan tidak sepenuhnja terpenuhi. Mereka tampil dalam masa pre-Sukarno, kita hidup dalam masa post-Sukarno: djarak antara keduanja lebih dari satu dekade jang suram.

***

Istilah „periode Sukarno” dalam kamus politik kini mungkin punja konotasi jang erat hubungannja dengan dendam-kesumat; dalam sedjarah kebudajaan kita, istilah itu hanja menundjukkan satu masa restorasi dari gaja hidup berkebudajaan jang lama ― sematjam neo-tradisionalisme.

Dewasa itu sastra kita hampir-hampir merupakan atjara waktu-senggang kolektif kembali, meskipun wadahnja lain. Slogan „kebudajaan nasional” menundjukkan, bahwa pengutjapan-pengutjapan jang bersifat individuil tak ada artinja djika dibanding dengan kebutuhan akan pengutjapan jang bersifat kolektif, nasional, Djuga dengan melihat periode itu sebagai periode neo-tradisionalisme kita bisa memahami satu gedjala umum mass itu: hidup kebudajaan jang tak independen, melainkan ditaruh dibawah patronage partai-partai politik & kelompok sosial lain. Kebudajaan berfungsi kurang-lebih seperti dizaman kraton dan kabupaten-kabupaten. Meskipun Partai Komunis waktu itu melindungi Lekra untuk „front persatuan nasional”, tapi imitasi mentah jang dilakukan partai-partai lain telah mengembalikan pola tradisionil kesekeliling kita.

Itulah sebabnja periode ini mentjatat penolakan terhadap Chairil Anwar dan bisa kita mengerti. Prasangka terhadap sesuatu jang baru adalah sedemikian rupa, hingga adjekti „baru” sama sadja dengan adjektif „asing”. Individualitet Chairil adalah lal jang baru, dan karenanja asing, dan ini benar: sama benarnja dengan apa jang dikatakan Sitor Situmorang setjara netral ditahun 1955: Tapi kenjataan tetap tinggal bahwa kita merasakan bahwa achirnja daerah puisi Chairil Anwar itu... berada ditengah-tengah daerah-daerah luas jang asing dari padanja" 2).

Dalam rangka jang sama, prinsip estetik Manifes Kebudajaanpun ditolak: bukan sadja Manifes mentjoba membantah fungsi kebudajaan jang hanja didjadikan kerdja-sambilan (jang kurang-lebih penting) dari partai-partai politik, tetapi djuga karena prinsip „,kesungguhan jang sedjudjur-sedjudjurnja" berarti meletakkan tanggung-djawab individuil dalam pentjiptaan. Seperti Chairil Anwar, Manifes Kebudajaan djuga sesuatu jang dianggap,,asing".

Dengan penolakan-penolakan ini, nampaknja kaum neo-tradisionalis mentjoba mendjawab kebimbangan kita, dengan berusaha mengembalikan nilai-nilai dan gaja hidup semula sebisa mungkin, seperti jang tersirat dalam sembojan,,Kembali kekepribadian-nasional". Tapi kedjadian-kedjadian besar ditahun 1965 dan 1966 menggagalkan peta kehidupan jang sedang mereka bikin itu.

***

Dan kini, kebimbangan sedjak awal abad ke-XX itu rasanja masih tetap sadja berada dihadapan kita, berumur setengah abad. Kearah manakah perubahan-perubahan jang sedang terdjadi terus ini kita kehendaki ? Perlawanan terhadap komunisme dan neo-tradisionalisme tidak dengan sendirinja memberikan djawab pada pertanjaan ini. Karena komunisme berarti atheisme dan neo-tradisionalisme berarti „abangan” seperti terpantul dalam konflik- konflik drama,,Pangeran Wiraguna" Mochtar Lubis - apakah djawabannja berarti suatu kesusastraan santri? Ataukah, karena komunisme berarti dogmatisme dan neo-tradisionalisme berarti ketidak-sediaan untuk menerima kritik dan kesangsian, kita djustru membutuhkan sastra jang kontroversial seperti sadjak „Sorga” Chairil Anwar atau,,Njanjian Angsa" W. S. Rendra?

Mungkin memang tidak ada resep jang bisa umum berlaku. Namun perlu kiranja untuk menjadari persoalan seperti ini, sebab ini berarti menja- dari kehadiran kita didepan alternatif-alternatif -satu tjiri kita jang men- djadi penting dan tak bisa dielakkan lagi.

Djakarta, 9 Djanuari 1968.
GOENAWAN MOHAMAD.

HORISON / 4