Lompat ke isi

Halaman:Horison 01 1968.pdf/3

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini belum diuji baca

TJATATAN KEBUDAJAAN

SEBUAH SKETSA SETENGAH ABAD
KESUSASTRAAN INDONESIA 1917-1967

KESUSASTRAAN INDONESIA adalah kesusastraan jang bimbang, sedjak awal abad ke-XX. Agaknja mulai dari roman-roman adat hingga sekarang kita belum lagi selesai dengan kebimbangan ini. Seperti halnja Marah Rusli („Siti Nurbaja”, 1922), seperti halnja penulis-penulis tahun 1935-1939 jang pokok-pokok fikirannja dikumpulkan Achdiat K. Mihardja dalam „Polemik Kebudajaan”, kita djuga terlibat dalam persoalan kenjataan-kenjataan hidup jang berubah, pada diri kita dan disekitar kita. Kita tumbuh dalam lingkungan kebudajaan jang tak lagi utuh, antara masalalu jang makin ditinggalkan dan masadepan jang belum sepenuhnja dimengerti. Kehidupan, digedor dan terguntjang dari sikap tertutupnja semula jang tenteram, kini tambah terbuka pada alternatif-alternatif: kebimbangan kita bukan lagi kebimbangan memilih antara menerima atau tidak menerima perubahan, tapi menentukan sikap kearah manakah perubahan-perubahan kita kehendaki.

Semua ini rasanja perlu disadari kembali. Lambat laun kenjataan-kenjataan menundjukkan, bahwa tak begitu mudah sebenarnja untuk — seperti „Surat Kepertjajaan Gelanggang” menjatakan bahwa kita adalah ahli waris jang sah dari kebudajaan dunia. Sebabnja amat sederhana dan dekat : kita adalah ahli waris jang sah suatu kebudajaan jang mendjadi gelisah sekali sedjak ia mengambil-alih pernjataan-pernjataan baru dari Eropah. Berdirinja Balai Pustaka 1917, jang merupakan pembuka pintu bagi arus kesusastraan Indonesia modern selandjutnja, merupakan djuga batu-tapal dalam sedjarah: pernjataan-pernjataan tradisionil kebudajaan kita tambah kian djelas tergeser. Sebagaimana penulis-penulis menggantikan pawang-pawang, sastra sebagai atjara waktu-senggang kolektifpun berubah mendjadi sematjam dialog antar-pribadi, dan dengan demikian makin mengharuskan individualitet. Tradisi baru sedang terbit. Tapi sementara itu disekitarnja taap bertahan gaja hidup berkebudajaan jang semula, jang ditengah pergantian-pergantian dari waktu kewaktu, mentjoba bertahan beringsut-ingsut. Gaja hidup ini, terlindung dalam bajangan prestasi-prestasi kebudajaan lama jang klasik, dan terdjamin dalam wilajah jang lebih luas, masih begitu kuatnja hingga sanggup untuk mengutjilkan setiap pembaharu. Disinilah kebimbangan itu berriula: sastra kita, dengan tradisi barunja jang moderen, dibajangi ketjemasan bahwa kelandjutan hidupnja hanja kesepian,,Si Anak Hilang" dalam sebuah sadjak Sitor Situmorang. Ada sematjam rasa bersalah, bahwa dengan meneruskan tradisi baru jang sedang terbit itu setjara lebih berani, kita berarti meninggalkan asal-mula kita dengan tidak hormat. Lagipula, adakah djaminan bahwa setelah itu beberapa hal, kalau tidak semuanja, akan mendjadi baik?

Kita lebih merdeka, karena itu lebih tjemas. Sedjarah kesusastraan kita ditandai oleh kegelisahan jang pandjang dan sungguh-sungguh, seperti terbajang dalam Siti Nurbaja" (1922), .,Salah Asuhan" (1928), „Belenggu (1940) dan,,Atheis" (1949) untuk menjebut beberapa jang penting sadja ¹).

***

Ada satu momen, dimana kebimbangan jang merundung kita itu kurang nampak, jakni dalam kehidupan dan puisi Chairil Anwar, Pada hemat saja, ini disebabkan karena Chairil Anwar tak begitu menjadari ketjemasan- ketjemasan zamannja, sebagaimana lazimnja setiap prototip „avant-garde”. Dengan kepongahan satu generasi muda, dia dan angkatannja menjatakan pemberontakan kreatif jang penuh, tapi agak meleset dalam menentukan siapa sebenarnja jang harus dimakzulkan. Angkatan Chairil Anwar menampik Pudjangga Baru, padahal jang mereka lakukan adalah meneruskan Pudjangga Baru dalam menegaskan gaja pengutjapan moderen: individualitet jang sanggup mengutjapkan Aku" setjara lebih keras, Biasanja kita lebih mengingat mereka sebagai orang-orang jang sibuk memusuhi Pudjangga Baru dengan berpolemik tentang idiom-idiom padahal mereka adalah bentuk perkembangan

jang lebih landjut dari Marah Rusli, Sutan Takdir Alisjabbana dan

HORISON / 3