Lompat ke isi

Halaman:Horison 01 1966.pdf/9

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

merokok rokok jang diberikan seorang nusub.

Tetapi menelaa mendoa dengan sini perti djuga, dan beranak bahwa mera- ka suka mendoa rokok bilamana roko besar, dan lebih sukar makan rokok roti besar.

Atas nama semua rakjat jang baik didaho Tjilgoeno, ”kata Pak Lurah, ”dan ini datang kenari untuk memeriksa ja- ngan dulu sampai kepada utut kampung dengan sampai menongkrak kuburan keramat. Perbuatan itu akan me- rusakkan ruh Tseramat Kiai Hadji Mau- lana Arah, dan pasti akan membawa tjelaka dan kesengsaraan kepada desa- penduduk desa kami dan djuga pada diriku sendiri. Soeng belarasan dan ke- naskan orang orang akan berdosa. De­ mikianlah kata saya.”

”Saja soedah mendengar dari Pak Lurah. Termasuk saja ustjapkan,” balas Soeara pebri homat pula, akan tetapi soekali bobah moel menjelatakan se­ ins. kuburan keramat itu.”

”Ahem, ahem,” Hadji Engkos meng- ger ger boncongkongkan. Ini kemarahan jang sangat djoelos. Dia harus datang ke- si kuburan keramat, dan akan djel terangkan alas sesa maha ini udjang sekor adjar ini, jang datang membawa piku­ len mohon kedesaan.”

”Tjeritanga pendjang sekali.” ~ ”Kebiasaan ini, pesan keadaan penting initinja. Kuburan ama; tuanja, hingga sla seorang djuga harus hidup kini da- desal apalagi pada sabda kuburan itu dyai dipintjak bukit dulu untuk me­ nungkan Kiai Hadji Maulana Arah. Ramsan tahun jang lalu. Dulu’ sekali. Sebelum Goenoeng Krakatau meletos. Sebelum Parangin Diponegoro. Sebelum goenoeng meletus. Masih djamann orang Wiyah belum bergama Islam. Seorang keramat datang kepada Djawa dari ne- geri Arab — Kiai Hadji Maulana Arah. Tetapi orang di Djawa tak mau percaya pada adjaran-agama Islamiah, dan selalu meminta supaja dia membuat kan rempat anda Tuhan jang maha “She, dan tentang kekoeatan” jang ada pade Tuhan. Talulah, bahwa didjamanan itu seroet sagai kami masih djoernih se- kali. Akan tetapi pada suatu hari, ketika orang desa menuntut supaja dia men­ tjelaskan kekoeatsaan Tuhan, maka Had- ji Maulana kemudian berkata — ‘Sae­ moenja supaja Tuhan menunjukkan, air sungai untuk se-hari-nja, dan dengan dernilakatan agar dapat menundukkan kesombongan hart orang kampoeng.

Tan tilah” air sungai jang djoernih Itula menjadi keras. …dan hingga sekarang air sungai tetap kering, dan meski Desa pun harus berganti nama, dipul jadi neger, air kering. Dan achirnja pendu- duk desa lain berobat, dan mesoekko agama Islam. Hadji Maulana dipo nga- rasoekan hal: gaui In berkat keluasaan Tuhan. Dia pun mendadakan agar ku- bang turen, kefujur masas zaman—ke- tul lima, di perum menjoekankan se- gala pengakir. jang tadnadi dapat boer- dau, dan o’lo dapat berangkat ke Mekkah. dan mengeremeng serbanjang, dan kem­ bali lagi dalam seledap mata sadja. Se- moenja binatang djuta han itu berani menjengur dirinja. Semua ular dan ka landjang masuk, dan mengusirnja. Be- situlah keramatnja dia. Dan ketika dia wafat, maka satu hari lamana djadi ge- lud. Penaklain dia dikuburkaan diatas pundak bukit, dan kuburannja tetap ke amat sejak itu. Dan masih banjak kejadian2 kedjadian2 serba lain djang dibuat oleh kerbuatannja, seperti …”

Akan tetapi Sasmil mengangkat te- ngannja, tersenyum dan berkatan.

”Terima kasih hanjak Pak. Akan te- tapi kami djas tetapșa diigsa merog- bangkor kuburan keramat, akan tetapi kami akan menjoengkaraken dengan pe- noeh chirmat dan hormat pada kekoe- asaan-nja; dan kamai telah mendapat tempat jang bok untuk kuburan itu. Ini” lebih dekat kepada desa tergendoendoe.”

“Dan lebih mudah bagi orag desa mendoatangna, dia kini dipindahkan ke- ……..”

”Akan tetapi itu murad, melanggar keramat. Dilarang oleh Qur’an memin­ dah dan memindahkan kuburan,” kata Hadji Engkos, semhi berbojinkapak se suatu dalam bahasa Arab. Samsul Isar menghela desu, memu­ tjapkan sesuatu dalam bahasa Arab, dan mengatakan, bahwa tak ada tertulis dalam Qur’an larangan memongkar kub- turan, keramat atau tidak.

“Tapi aku kemari gertjagi pada uta- pamit, anak muda, kata Hadji Engkos, “menurut engkau dan kelihatannja fasih berbahasa Arab dan hapal Qur’an serta hadits. Dan engkau tak serupa dengan anak2 muda Islam jang biasa. Malahan engkau sangat mai menanam pohon Nasrani,” serunja với suara meneng. “Maka Sesuai berodha djadi sungguh.” ”Pohon Nasrani?” dia tertenggu set­ bentar. “Oh, itu bukan pohon Nasrani, itu pohon djemara.” “Bukan, dapat tau namakan pohon djemara, akn tetapi ajen sebenama itu adalah pohon Nasrani. Sering dit- nam dhalaman gereja2 dia dipakka kan daon Keristeny untuk hiasi raja me- reka.”

Samsul menarik napas. Berdiri, dan pgeri keseubhan, medja, dan mendjamai sebuah buku.

Dibukannja buku, dan diperlihatkan- nja kepada Hadji tua dan Pak Lurah

sebuah potret sebuah mesjid jang be- sar, dan rumah2 dikelilingi oleh po- hon2 djemara jang tinggi. “…Lihatlah, kakek,” ini potret mesuh mesjid be- sar di Kairo. Dikelilingi oleh pohon de- mara, bukan pohon Nasrani. Dan lihat- lah,” dia menunjuk lembaran buku lain, ”ini sebuah mesjid di Leba­ non, djuga dikelilingi pohon djemara. dan ini, dan sebuah mesjid di India, djuga dikelilingi …dan ini, dan ini,” dia membuka bu- turan tur, medal potret mesjid pohon de- mara, banjak pohon djemara. Bapak Had- ji bermaksud menetakkan, bahwa orang Me- sird, Arab orang rade Tionghoa Islam ka umu semuanya adalah orang kafir! karena mereka menanam pohon dje- mara dihalaman mesjid mereko.“

Beberapa waktu Hadji Engkos ter- sendu. Berat sekali baginja untuk me- ngaku dan menjerah pada anak muda itu dalam tingkat pertama perundingan mereka. Satu kerpulan fakta jang ber­ asar. Akan tetapi dia tak dapat berbo- hong sesuat apa, ketjuali mengakui berha- nana tidak benar.

”Baik, baiklah,” dia mengaku, “baiklah kita namakan pohon ‘tje­ moroes’ itoe serupa sadja dengan pohon Nasrani jang diperkenalkan oleh orang Nasrani untuk mengadjak Hari Natal mereka, dan sadja tidak akan mau men- anamja dihalaman mesjid kami.” Had- ji Engkos melotot pada Samsul.

Samsul tersenyum sadja, menutup bu- ku, dan berkata, ”Pak hadji dan Pak Lu- rah jang mulia. Kami datang kemari atas dasar orang Muslim jang baik. Kami hendid menamnbuhkan sebuah persa- tuan haru. Kami akan menghaploeskan sela di adjaran agama Islam, semata­ tetapi djuga ingin mengetahui jasen djar- lam. Kami hendak mendidik pemimpin pemimpin agama tokoan huru, jang akan menjadi pemimpin agama didesa-de- desa. Mereka tidak sadja harus mengerti di pemimpin agama, melainka harus da- hura menjadi pemimpin masjarakat. Mereka tidak lasi boleh mendapat “hal kai dari pemberian’ rad raja, tak eng- ka mereka jang mesti membantu rakjat. Mereka mesti dapat memberi makanan dan memimpin orang desa bagaimana adan memperbaiki panen, bagaimana membangun irigasi jang lebih baik, ba- gaimana memperbaiki ternak, bagaimana membangun kandang2 ajam jang le- bih baik, dapur jang lebih baik, sogot bagaimana memperbaiki kesehatan desa, bagaimana hidup lebih baik dari keadaan kekoetaan alam jang melingkungi desa


HORISON-9