Lompat ke isi

Halaman:Horison 01 1966.pdf/8

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

Pak Hadji Engkos selama lima tahun dan tak dijuga dapat anak. Dan Hadji Engkos katanya bendea memperlajari ilmu karena itu. Lalu Alasmi pergi diberi kuburan keramat dan minta diberi anak. Setelah sembilan dia lalu melahirkan bayi, bujang.

Dan barangkalai, djika kuburan keramat mereka bonkar, dikutuk dosa besar, akan dapat tjelaka; tanja Amat betji dengan geram.

“Bini pertjayaan Amat lagi menundjuk bukti rasa takut dalam hati mereka. Ada jang sampai merasa gemetar memikirkan betapa tjelakanya djika kuburan keramat didjadi dibongkar. Tidak! Kalau, bisik mereka dalam hati, kuburan keramat tak boleh dibongkar.

Ibu dan wanita² didesa lebih lagi heboh karena kabar tentang pembongkaran kuburan keramat. Djika kuburan keramat dibongkar, tidaklah keselamatan masanja dan keluaran gawatlah hilang? Lalu lamentau lagi nerofa akan dapat pergi untuk minta tolong? Untuk melaksanakan harapan dan mimpi² mereka? Kemana akan pinta tolong tatkala merajakat suami minta tolong? Atau memet tjinta sama muda? Untuk suami, minta naik gaji, minta naik sikit djadi sembun, minta orang gila dan waras minta obat hati sakit?

Selama mereka ingat, kuburan keramat telah ada disana, dengan astanja dari kain kuning, dan telah dipelihara turun temurun oleh keluarga Pak Kebong. Bagi mereka dan bagi seluruh desa kuburan keramat merupakan pula lambang dari kebaikan hidup desa itu masa sendiri.

Bukan, bukan lambang sadja, akan tetapi hal obahinja secara suah, tempat kajat hidup desa mereka terletak dengan amanja djika dilanda oleh keadaan jama gawat. Seperti ketika petjah sahaja pes didoeari mereka, berkat soed’jan’ dan doa² mereka dikuburan keramat, desa mereka telah luput dari serangan pes. Demikian pula ketika Gunung Api meletus entah tudjuh puluh tahun jang lalu; kuburan keramatlah jang menjemalmatkan desa mereka. Djuga ketika wabah kolera mengamuk sesudah masa perant djioa perangam. Kuburan keramat tetap melindungi desa mereka. Kuburan keramat adalah sjelamat dari hidup mereka. Kuburan keramat memberi arti pada hidup mereka, memberi djalan pada mereka, memberi harapan pada mereka.

Dan kini orang tak perkenai datang dan hendak membongkar dan mengambil keramat?

Tidak! Seribu kali tidak! Seru orang² kampung dalam hati mereka. Lebih baik mati dari membiarkan kuburan keramat mereka dirobohkan dan dibongkar.

Dalam sebuah rapat besar yang diadakan dengan amat buru rencana pembongkaran itu telah diambil oleh jang semen. Mereka harus melawan, dengan segala kekuatan jang ada dalam mereka. Mereka mesti menegahi kuburan keramat mereka dibongkar.

Mereka memutuskan untuk mengirim Pak Lurah dan Pak Hadji Engkos, dua orang tertua didesa, dan jang dianggap paling bidjak sama pula, pergi berunding dengan orang tua orang itu.

Pada hari jang telah ditetapkan Pak Lurah dan Hadji Engkos dan dengan satu paju mendaki bukit, jang terletak diluar desa, untuk bertemu dengan Sanusi, orang muda jang diangkat pemin pin pesantren modern. Sanusi masih muda. Umurnja baru dua puluh tahun atau paling tua tjapouluh enam. Ketika Pak Lurah dan Hadji Engkos dekat tipunjuk bukit, tempat kuburan keramat, mereka melihat Sanusi sedang mengawasi pemantauan pohon² Nasrani. Mereka berenti, terheran melihat dengan sanang jang agak marah, akan tetapi karena napas mereka sendiri masih sesak habis mendaki bukit, Sanusi rena rabut mesmiskar jang menedoh fong fathat kebawah bukit. Sanusi tak mendengar pula mereka.

Sanusi baru mengangkat kepala, tang padah terlelot ketika Pak Lurah dan Hadji Engkos telah berdiri disebelah dia, dan menegurnya.

“Assalaamu’alaïkum.”

Sanusi terbeling pula mereka, agak terkejut.

Pak Lurah dan Hadji Engkos merasa senang melihat Sanusi terkejut. Bagi mereka ini hal lain sebuah tanda, bahwa Sanusi merasa dirinya berdosa.

“Kami datang, untuk berbunding dengan tuan tentang kuburan keramat. Kami djadi utusan semua orang desa dan kami datang dengan maksud damai,” kata Pak Lurah dengan suara resmi, dengan sikap jang sopan sekali.

Sanusi meluruskan badannja, mengu pasrukan tangannja kesisi telajanana jang berwarna biru tua, dan dia mengulurkan tangan bersalaman.

“Wa’alaïkumsalam,” katanya, dan dia pun meminu lalu mereka jang sanang hati. “Maupun gerna bapak² datang dengan maksud damai, dan untuk berunding. Kami pun juga mau berunding dan menjelaskan kepada penduduk desa tentang tudjuan kami di tanah itu. Angalat kepada pemimpin² desa jang begiat hidup pada segoen bapak² bapak² desa, kami menghormati sangat dan dari tadisi. Kampung masa diam dan kerja bersama dengan rakyat desa.

Sanusi tidak segera Pak Lurah dan Hadji Engkos itu kessebab pohon Nasrani dan keramaian kuburan itu. “Batu-batu ditinggari dari batu² kecil berwarna kelabu. Itu lemah keramat jang telah dikubur. Ini lemah keramat jang tudju muljadi. Dan musti jang lambat menutupi batu² itu harus dimusnahkan bersama dengan tanda² dan keramatnja kuburan. Alangkah hebatnja kejadian² dan kesemanja kesemanja.

Diatas kuburan terpasang atap daun² tangan tuang jang digantung tinggi dari futhud jang telah dikait, dan seluruhnja ini kemudian dilindungi lagi di radjuk dan atas pileh sebuah atap jang terpasang diatas langit² kayu besar, jang dirikul leh tong² besar. Sadaji’ rid’ and dari laut, bunga melati, bunga mawar dan kenanga menutupi kuburan² keramat sesuai dengan perintah pujaan menselipkan satu saat berhenti. Diluar tembok kuburan tumbuh subur pohon kemboja jang besar dan tua. Dan kebangtoja dikaliskan tiga telen kambing jang diberikan sebagai korban oleh seorang raki jang lai dari desa lain.

Ajani² hidup djuga dianantari orang ke kuburan keramat, akan tetapi setelah susana lama beberapa saat saja. Tanda kemudian lalu masuk kedalam pek kubur djikup DJu Kentong dan Hadji lain dikese. Mereka itu, mengadakan up pembakaran ja didil’ sari sad’ hari dengan lantarkan² tekelubur keramat, kembang² jam, watu perak dan tembaga perak kertas, potongan² kain, dan sebagainja.

Pak Kentong sendiri bersilap seperi helas disamping kuburan keramat, dengan telunpu membat Al Qur’an, menjadikanja turusnja jang keremat, yang sadarwidjai air ajahnja, seperti ajahnja mewarisnja dari ajahnja, dan demikian seterusnja.

Melihat kubur keramat mereka ja sido itu, hati Pak Lurah dan Hadji Engkos itu tambah terketuk untuk membela kuburan keramat mereka, api djan saja akan terjadi. Dengan emem bela napas panjang, mereka berpaling kepada Sanusi. Didalam pondok ada beberapa mjedi dan keris. Diatas meja terletak kertas² putih besar dengan rajatan² ganer penuh dan gendub-gendub¹ dari pohon². Sunusi membenarkan xu’koel, menurunkan bunyi² sun meletika kata itumj untuk ja kermet hur tembus karena akan di duduki.

Kemuian, dia sesudah duduk, dan de atas meja asawakan rokok besar dan pembunjara. Akmes takut. Pak Lurah dan Hadji Engkos inteolah desa dan hati. Mereka berpikir ada baik sekali mereka…


8 HORISON