nja? Bisa, apabila ia kemibali kepada “api’nja jang tak kundjung padam, dan bukannja Memamerkan arang serta abu jang telah habis digunakan untuk menjalakan api itu. Dengan kata lain, agama harus kembali kepada wa taknja jang revolusioner, jang membebaskan, dan bukan bertahan dalam wataknja jane tonservatif dan prohibisionis, jang menimbulkan alienasi seperti disinjalir oleh Marx. Kearah ini agama harus bersikap demokratik, melemparkan amibisi² kekuasaannja djauh² dan menganggap dirinja sebagai sesuatu jang dilahirkan untuk kebaikan tiap* manusia, ja. untuk melajani manusia. Dalam buku Systematic Theolognja jang terkenal Paul Tillich dengan tepat mengatakan, bahwa persoalan jang timbul dewasa ini bukanlah persoalan "peng-kristen-an kebudajaan dan masjarakat”, tetapi persoalan tertjiptanja suatu keadaan dimana "alienasi diri dalam bidup kita seratasi”, suatu keadaan dimana ada "perhubungan dan persatuan kembali, kreativitas, arti dan harapan.”
Dan dalam pendemokratisan sikap agama itv kesusastraan dapat memban- tunja dalam banjak thal, sebab semangat kesusastraan, vitalitasnja jang asli, adalah demokratik. Seorang pengarang bukan sekedur bertanggung dja wab kepada ‘keselamatan djasmaniahnja, tetapi terutama kepada "social cosnciense of man”-nja. Djuga pentjarean effek kesusastraan tidaklah berasul dari ambisi² kekuasaan — seorang pengarang tak hendak menguasai pembanjanja dalam arti mengontrol pribadinja — melainkan sekedar keinginan mengadakan komunikasi. Tetapi dalam hendak membantu agama kearah sikap jang demokratik itu sesuai dengan wataknja kesusasteraan harus membebaskan diri dari tekanan² kekuasaan agama, atau kalau tidak dia akan berhenti sebagai kesusastraan jang tak akan ada gunania dalam menjelamatikan agama dari "penjakit"-nja. Untuk ini dari kalangan agama, terutama pemimpin-pemimpinnja, harus diperdjoangkan hilangnja prasangka² jang biasa terha-dap kesusastraan dan kesenian² lain hilangnja watak prohibisionis jang tjrewet. Ja, agama harus menaruh kepertajaan kepada kesusastraan, sebagai suatu kegiatan imsanijah jang tak akan habis dan bersifat esensial bagi manusia itu sendiri
Tidakkah merupakan suatu kontra diksi bila dikatakan bahwa kesusasteraan jang bebas dari kekuasaan agamalah jang djustru bisa menolong agama itu sebagai sumber alenasi ? Tidak, apabila seperti Denis ce Rougemon dalam pidatonja tentang Religion and the Mission of the Artist dimuka Konperensi tentang dunia Kresten doo Kesenian di Celigny tahum 1950 kita djuga mengatakan bahwa “seni adalah suatu penggladian seluruh kehadiran manusia, bukan utk menjaingi Tuhan, tetapi untuk menjesuaikan diri setjara lebih baik dengan TjiptaanNja, untuk lebih mentjintai Tjiptaan itu, dan untuk meneguhkan kembali diri kita kepadanja. Djuga tidak, apabila kita memahami kata² Nabi Muhammad jang berbunji "Tumbuhkanlah sifat² Tuhan dalam dirimu", jang bagi Iqbal antara lain berarti agar kita djuga kreatif sebagaimana Tuhan sendiri. Dengan demikian pertolongan kesusastraan kepada agaa tidak terletak dalam membantu menambah djumlah pemeluk, melainkan memperdalam serta mempermudah hubungan manusia dengan Tuhan kembali, terlepas dari segal penjakit hipokrisi.
Dalam pada itu dari fihak sastrawan² sendii bukannja tidak perlu mengetahui arti dari tradisi? agama. Tradisi² dalam sedjarah hidup manusia adalah pembantu proses "learning" (beladjar)-nja dalam mengatasi kesulitan². Oleh sebab itu tradisi harus memiliki sifat jang transforabel, sifat² jang membedakan-nja dari sekedar dogma. Demikiam pula sistem nilai? jang bersifat tradisionil keagamaan adalah pegangan jang bukannja tidak berfaelah Penolakan humanis me abad ke20 jang dibarat dipelopori oleh eks estensialisme Sartre terhadap nilai² jang pernah ada pada hemat saja merupakan suatu sikap jang berbahaja. Utjapannja dalam L’Existensialisme est un Homanisme bahwa "Dibelakang kita dan juga didepan kita, kita tidak mempunjai daerah nila jang tjerah” serta kalimatnja dilain bagian bahwa "............ bila saja menjisihkan Tuhan Sang Bapa, maka haruslah ada seseorang jang menebukan nilai²” bisa menimbulkan anarki .penemuar” nilai² jang akan sangat berbahaja apabila djustru penemunya adalah seorang Hitler. Dengan kalimat lain semua ini bisa kita katakan, bahwa bepertjajaan itu kepada manusia bukeanlah kepertjajaan romantik jang memisahkan satu kurun masa dari proses sedjarah sebelumnja, dimana tradisi merupakan salah satu sokoguru dari sedjarah jang akan, datang.
Saling pertjajemempertjajai, pengaruh-mempengaruhi seperti diatas antara agama dengan kesusastraam pada achirnja mérupalran dasar jang baik bagi lahinnja serta matangnja sastra keagamaan kita. Sebab perhubungan seperti itu adalah perhubungan antara tradisi dan perkembungan, sehingga posisi sastra keagamaan itu dewasa ini harus terletak antara kenjataan adanja sistem nilai² jang tradisionil dengan kenjataan adanja ‘sodrat manusia untuk merdeka dan berkembang, jang mani festasinja antara lain berwudjud kesusastraan.
Masalah jang rasanya djuga penting difikirkan ialah bagaimanakah sastra dalam genre ini muntjul dengan hasil² jang lebih baik setelah menemukan alasan jang bertanggung-djawab bagi kehadiranja?
Sesuai dengan wataknja jang demokratik, caja menjetudjui pendapat bahwa tugas kesusastraan bukanlah memberikan pertanjaan. Seorang pengarang jang biasa memberikan djawaban jg telah slap kepada pembatja dalam menghadapi persoalan² hidupnja alan tidak membantu sipembatja dengan baik. Demikian pula apabila sastra keagamaan berusaha mendjawab persoalan²² jang timbul dalam situasi sekarang dengan cara menjodorkan djawaban jang sudah djadi, rapih dan korek — dengan gaja ke,,chotbah-chotbah”-an sedikit — maka ia akan menjebabkan kita sebagai pembatja mendjadi djemu dan malas. Diachir pertundjukan teater, diachir sebuah sadjak, dipenutup sebuah novel, seorang pengarang haruslah mengetuk pembatjanja dengan sebuah pertanjaan jang menggoda, hingza sang pembatja berusaha sendiri menemukan djawaban nja, cuatu djawaban jang dengan demikian akan bersemi dalam dirinja dan bukan suatu djaweban jang sudah tersedia setjara gampang. Saja kira prinsip ini sesuatu dengan posisi sastra keagamaan itu dan fungsinja jang chusus: fumgsi jang tida’ bermaksud untuk menglslam-kan pembatja atau mengKristen-kannja, melainkan fungsi untuk membantu pemibatja dalam menjelesaikan sendiri persoalan hidupnije
Dari sinilah mut sastra keagamaan bisa diperbaiki, sebob prinsip tersebut sesuai dengan kodrat kesusastraan, jakni demokratik, sechingga pada perkembangan selandjutnja sastra ‘keagamaan tidak identik dengan chotbsh” jang dibungkus dalam sadiak. novel ataupun repertoire d
Toh dasar² Kehadirannja telah bisa ia pertangungdjawabkan
- V -
DEMIKIANLAH dengan menjaden bahwa wudjuan terachir adalah kemer- dekaan manusia. dan bukan kekuasaan Kristen atau Islam, bahwa tudjuan terachir bukanlah djumlah jang banjak (Bersambung ke bal. 21)