hadirnja sastra keagamaan itu, melakukan adalah motif itu mempunyai dasar² jang kuat dan masuk akal (logis): bukan sentiment perasaan belaka), sebagian adalah pertandangan ungkapan dari pengarang² keagamaan untuk memberikan djawaban kepada persoalan² dewasa ini, dengan berbasalkan sistem nilai² baru jang bersifat tradisionil keagamaan.
Untuk itu baiklah kita mengadakan sedikit penindjuan dan penelitian terhadap motif² jang telah disebutkan tadi.
- III -
APABILA motif utamanja adalah penjaring identitas dengan menjeriteg posisi apa-apa tentang kehidupan bersama, dan soedah ada perdjatan identis jang sudah maka ada dua kritik jang harus mendapat perhatian bahwa kehadiran sastra keagamaan dalam motif itu tidak bersangkut djawab, dan karenanja harus memulai dengan segera. Kritik pertama ialah bahwa sustlai atau sorem literasi sastra jang dilihatkan atas dasar hasil pertjiriaan identitas belum berhasil membitjarakan hal² jang berses: sesungguhnja baru merupakan eksperimen² seorang individu jang keres mendjangnja masih harus ditunggu. Kritik kedua ialah, bahwa tjara pertjarian identitas dengan menghususkan dirinja pada persoalan lingkungan hidup tertentu adalah tjara jang salah. Sebab Djamal Suherman, misalnja adalah esalen hasilkan identitasnja itu tidak berhenti menulis segala sesuatu tentang dunia pesantritan? Identitas bersumber pada kepribadian seorang pengarang, dan sikap keluar dari kepribadian itu berupa sikap-hidup, sehingga identitas seorang pengarang tidak bisa ditentukan kepada apa² jang (kerenja) dihasilkannja, tetapi ditentukan oleh “apa² dan-bagaimana” mengkalimkan.
Sementara itu apabila motif utamanja adalah akibat rivalitas golongan dalam masjarakat, jang berupa rivalitas politik, sehingga sastra keagamaan merupakan sendjata didalam rivalitas itu, maka ada tiga titik jang akan diterima dalam sastra keagamaan jang dihasilkan dari motif ini: pertama, lebih dapat kesan bahwa jang terlibat dan memmasukkan dirinja dalam rivalitas politik lama kelamaan akan kehilangan sumber² rohani; menjadi kosong akan apa sebagai perjuangan politik dengan sendirinja menundukkan kekuasaan, untuk membentuk kohesi dalam golongan lambatnja. Semaki hebat pergolongan itu, semaki bersalarl kepercayaan adanya kekuasaan itu. Langsung maupun tak langsung tekanan² dipergunakan, sehingga agama tetap dengan alat setadjat tentral dari sikap jang demokratis. Tekanan² melahirkan hipokrit: manusia tidak lagi bebas, dunia agama bukan tempat merupakan kekuatan rohaniah, tetapi sudah merupakan kekuatan djasmaniah jang mengontrol tindak-tanduk manusia. Manusia lama kelamaan tidak lagi menjembah Tuhan, tetapi menjembah agama dengan segala aturannja-aturannja jang lentur. Inilah adalah tanda chess dari agama jang sudah merupakan sumber apa jang dinamakan oleh Marx “alienasi”, yakni dimana “hidakninja sendiri tidak di bawah kekuasaan, tetapi malah menrupakan kekuatan jang asing bagi dirinja, berada diatas kekuatannja dan melawan dirinja.” Dengan kata lain, orang sudahl tidak lagi berkuasa atas sembahjang, tetapi ia bahkan dikuasai ia oleh sembahjangnja itu. Sembahjang jang tak diutjapkan dalam alimensi apa pun ini malah bukan alam untuk manusia, tetapi manusia itu jang untuk agama. Ambisi kekuasaan jang diperojangkarkan oleh pimpinan² agama tidak akan menjebahkan agama bersifat “totaliter”.
Dengan demikian djudjat jang kedua, dan chususpunya terdapat dalam bidang kesusastranaan; ialah hilangnja vitali-tas jang asal dari kesusastraan itu, sebab dia diselitkan sebagai sekedar alat dalam menetjapai ambisi politik, sebagai sekedar propaganda. Sifat “totaliter” agama itu sering nampak dalam pelarangann buku² kesusastraan tertentu, watak prohibisionis, atau diengan indah tjaris kesusastraan “serir” ditjaga baik. Bahkan, sifat “totaliter” dan watak prohibisionis itu meluas dengan ganggansanja kepada kehidupan kerejat lainnya: pembunuhan al-Halladj, pembakaran buku-buku Hamzah Fansuri, penolakan terhadap seni-patong.
Dengan bersembojan “seni adalah dari da’wah” kadang kita melihat orang mendesakkaan agar saja² sudji² diselipkan dalam sebuah repertoire…
Adapun sifat jang ketiga sangat erat hubungannja dengan “persoalan” nasional kita sekarang. “Persoalan” nasional kita sekarang tidak bisa diselesaikan dengan memperhatikan “clash of interest” jang bersifat politik bersama ambisi² politiknja. Gosip² anti–ressoal nasional, jand ditindjal serta kerja keras dari sudut ideologis negara selama ini tinggal diformulasikan lebih landjot, tidak diberi dengan begitu sadja diredster dari dunia tindalan politik, misalnja dengan penjugatan partai, tetapi djuga dengan “tindakan” kultural. Agama harus dimasukkan dengan tindakan² kultural itu! Tak lain adalah bersikap kreatif, jang memang kita kesah tjara heratif: hidup jang dialektik, seingga sebagai matjan ontomik seseorang ada demi sepatak lain lentur, demikian pula sebagai matjan fantasmode dan segatilan seketjernise. Bagi hidup keagamaan sendiri sikap kreatif itu amat diperlukan untuk membawa agama kearah modernisasi dalam tjara berfikir, dan dengan demikian djuga modernisasi seluruh masjarakat.
Setelah kita menindjau dan menilai motif² jang kita sebutkan diatas, djalas kiranja bahwa kita belum dapat menemukan alasan² jang bertanggung djawab bagi genre sastra keagamaan itu untuk hadir dalam kesusastranaan kita dewasa ini. Meskipun demikian, adalah hal itu berarti tidak mungkinlah sastra keagamaan diketerpkanakan? Dalam pertundjang les hibun huus, pertandjian itu adalah pertandjian: dapatkah agama menjelaskan perosoman² kita dewasa ini? Tak dapatlah orang² sekarang mendjadikan “sintesis nilai²” jang berasal tradisionil keagamaan itu untuk menjelaskan dan merobah wajah persoalan² masjarakat?
- IV -
TENTU SAJA kita belum lagi pergangan hasil² jang telah saja toeh djelaskan dalam sastra keagamaan di atas, dan hal itu pun mendesakbet kekid-tnumakan teknek dan larh’ lepat seperti dalam bab ke-III telah diuraikan, kita samal belum menemui alaslan jang bertanggung djawab kich kehadiran genre itu ditengah kita.
Pertandjian tentang dapat atau tidak–nja orang² sekarang menggunakan kenilai² jang bersifat tradisionil keagamaan sebagai basis buat mendjab wab persoalan² masjarakat pada hemsaja bisa diselesaikan apakah setiap teori terlebih dahulu apakah semuginja persoalan² kita dewasa ini.
Persoalan dewasa ini dalam setelah jang besar adalah persoalan² menuju persatuan nasional jang akan diunembangkan dengan persatuan antar huas², jang alat-alatnja direalisir dengan peremohaan kemerdekaan, pembinaan perekonomian sosialis, perbaikan sepindan pendidikan dan lain². Tudjuan dari sedjadji kita adalah kemerdekaan dan pembungan terpelanjot tiap² kita, dan saja kira hal ini dapat lebih teggi diusahkan apabila kesempatan² untuk bersikap dan bertindak kreatif diperluas.
Adakah agama bisa mengusahakanHORISON – 5