Lompat ke isi

Halaman:Horison 01 1966.pdf/4

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

POSISI
SASTRA KEAGAMAAN KITA
DEWASA INI

GOENAWAN MOHAMMAD



I

MUNTJULNYA BUKU- BUKU puisi Fridolin Ukur, Supawarna Wiraatmaja Mohammad Saribi karja teater Mohammad Dipenogoro serta novel djumil Suherman pada awal tahun 60-an pada hemat saja telah memertegas kehadiran suatu genre "sastra keagamaan". MEskipun sedjarah kesusasteraan kita telah menghasiakn penulis sematjam Hamka djauh seblum tahun 60-an, namun rasanya genre baru ini dengan sikapnya yang chusus telah mendesak kita untuk mengakui kehadirannja jang berbeda dengan kehadiran karja sastra hamka jang mendahuluinya. Apakah sikapnya jang chusus itu? Apabila baik Tenggelamnya Kapal Van der Wijck maupun Dibawah Lindungan Ka'abah menitikberatkan kehidupan beragama sebagai latarbelakang, maka karja jang saja sebut diatas tadi lebih menitikberatkan kehidupan beragama sebagai pemetjah persoalan. demikianlah Fridolin Ukur memilih Immanuel, Mohammad Saribi meng qur'an-kan puisinya atau menokohkan Nabi Muhammad s.a.w dan Diponegoro menokohkan ibrahim sebagai lambang iman jang menang dalam menghadapi iblis. Oleh sebab itilah saja ingin memberikan batasan terhadap genre sastra ini sebagai genre sastra jang bermaksud (dengan sadar) memberikan djawaban kepada situasinja dengan berbasiskan sistem nilai jang bersifar tradisionil keagamaan. kehadiran sastra keagamaan ditengah2 kita pastilah mempunjai latarbelakangnja sendiri. Mengetahui latarbelakang ini adalah perlu, sebab dari sana kita akan bisa melihat adakah genre sastra ini hanja bersifat sementara ataukah ia tjukup mempunjai landasan jang kokoh buat hidupnya dikemudian hari.

II

ADA dua hal jang saja kira bisa diketengahkan sebgai motif jang melatarbelakangi hadirnya genre sastra tersebut. Pertama adalah motif2 didalam kesusastraan, jakni pengaruh penggolongan didalam masjarakat. Identitas seseorang dalam dunia kepengarangan dianggap sangar perlu hingga kita sering melihat bahwa penilaian jang tinggi diberikan orang kepada pengarang2 jang "telah mempunjai identitas tersendiri". Hal ini adalah lajak unsur2 pribadi banyak berpengaruh dalam hasil karja. Dalam pada itu pengaruh dunia kritik kita sedjak beberapa tahun jang silam setjara langsung maupun tak langsung telah menjebabkan proses pentjarian identitas itu mempunjai pola umum sebagai berikut: seorang sastrawan dengan identitas tertentu adalah seorang pengarang jang banjak menulis soal2 kehidupan tertentu. Demikianlah Djamil Suherman beridentitas dengan dunia pesantrian, dan Bur Rasuanti dengan kehidupan jang penuh protes dari buruh-minjak. Pola umum ini kian lama mengkristal hingga pengelihatan kita kepada identitas seorang pengarang adalah pengelihatan kita kepada "apa" jang sering dikitakannja. Untuk mendapatkan identitasnya sesuai dengan pola umum tersebu, ada pengarang jag bersibuk-diri dengan mentjungkil pengalaman2 dari hidup keagamaan sebagai apa jang sering disebut "wilyah jang belum banjak digarap dalam dunia kesusasteraan kita". Dalam hal ini saja kira Djamil Suherman-lah jang merupakan pelopornja pada achir tahun limapuluhan, sebagai jang kini terdapat dalam kumpulannja Umi Kalsum. Meskipun disini kehidupan beragama masih dititikberatkan sebagai pemetjaha persoalan, namun perkembangan selandjutnya (dari dan dengan identitas jang diperoleh sebagai seorang pengarang keagamaan ) menundjukkan jang sebaiknja: Perjalanan ke Achirat mulai menempatkan kehidupan beragama sebagai pemetjahan persoalan ; dengan kata lain novel jang baru saja sebut itu telah merupakan tjontoh dari genre sastra keagamaan. Adapun motif2 diluar-kesusasteraan, jakni pengaruh penggolongan serta rivalitas antar-golongan didalam masjarakat, terutama mendapatkan udara jang baik dipertengahan tahun 50-an dan sesudahnja dengan adanya pemilihan umum dan menandjakanja persaingan politik sesudah itu - sehingga getaran kesadaran golonganpu telah melahirkan istilah2 seperti "kesusastraan Islam" "Kesusastraan Kristen/Katholik". "Kesusastraan proletariat", jang kian hari kian djelas terdengar meskipun kebanjakan tetap tidak djelas untuk diterangkan. Nampak bahwa terbitnja koran2 partai dengan lain2 berkalanja, lahirnya lembaga2 kebudajaan dengan seksi-seksinja, makin setjara gampang membuat klasifikasi jang sulit itu. Sedjalan dengan ini orangpun mulai berfikir-fikir tentang perlunja kesusastraan dari golongan agama dan mulai tampilnja pengarang2 jang mengadakan commitment dengan agamanja sebagian besar dari sanalah lahirnja genre sastra keagamaan jang kita bitjarakan soal2 ini. Namun persoalan jang penting jang kita hadapi bukanlah motif2 mana jang paling dominan jang telah mendorong

4 Horison