MUNTIK No. 11
Sambungan dari halaman 14
Dan merekapun men-duga², bahwa djarak kini kedjalan besar jang akan dilintasi hanja kira² setengah kilometer lagi. Karena itu djalan muntik diperlambat. Mereka bergerak sambil menanti kilat mendjilat. Begitu kilat mendjilat mereka mengawasi bajang² jang bergerak didepan mereka, kalau² ada musuh jang mengintai. Bila tiada, muntik merangkak madju. Madju selepasan kentut, lalu berhenti.
Urat² diwadjah kang Manil menegang. Ia hanja mempersiapkan diri, madju tjepat melintasi djalan besar atau mundur kembali keperkebunan, kemudian mengaburkan muntik kedaerah selatan.
Disertai guntur jang menderu, lapat² mereka mendengar sesuatu jang hebat dibelakang mereka. Mereka serentak menoleh. Sebuah pohon kelapa sawit jang mulanja tegak berpidjak dibumi disebelah kanan mereka, tumbang melintang djalan.
Tinggal djalan madju. Madju kedepan! bisik kang Manik.
— Ja, madju kedepan! bisik mang Karna.
Hudjan menderas dan guntur sahut menjahut. Seiring dengan djilatan kilat, muntik No. 11 itupun madju merangkak. Pertjikan air jang merajap kedalam menggigilkan badan mereka. Tiba² sebuah pohon kelapa sawit tumbang sedjauh sepuluh meter didepan mereka. Dan muntik itu terpaksa berhenti.
— Bagaimana, Manik ? tanja mang Karna.
Sepi. Dan terdengar desau angin dan sajatan hudjan jang menimpa pepohonan me-lingkar— diseputar malam itu.
— Kalau terpaksa dorong sadja dengan muntik ini ! bisik kang Manik.
— Wah, mending kita dorong bertiga, usul mang Karna.
Mualam jang berlari dari gerbong belakang mengagetkan kang Manik.
— Dorong sadjalah ! bisiknja.
— Ja, tapi djangan ngegetin. Dari sini tidak djauh lagi kedjalan besar. Hati², sebab mungkin musuh mengintai. Kalau lawat djalan besar, amanlah ! bisik kang Manik.
Mereka berdiam dan saling berpikir. Dalam hudjan jang menderu-deru dan angin jang men-desau² serta angin jang memeras-meras, ditambah malam jang pekat dengan djilatan kilat sesekali bersama guntur sahut menjahut muntik nomor sebelas itu merupakan dadjal jang mengerikan di-tengah² malam itu. Dadjal hitam jang teronggok kukuh mendjaga bumi.
— Mari kita dorong ! bisik Manik.
Merekapun madju kedepan. Lalu mereka bertiga mendorong pohon kelapa sawit jang besarnja sepelukan orang dewasa. Tapi pohon itu tak berkutik sedikitpun, karena pohon itu masih terikat akar²nja jang menantjap ditanah.
Manik menarik napas pandjang. Mualim mengeluh dan mang Karna menatap kedjurusan utara jang gelap-pekat.
- Tjoba lagi ! bisik Manik.
Mereka bertiga menungging membelakangi muntik No. 11, lalu dengan serentak mendorong pohon kelapa sawit jang melintang didjalan rel itu.
— Angkat tangan ! teriak seseorang dari tengah² kebon.
Mereka bertiga tegak terpaku sambil mengawasi kearah kanan. Sekira sepuluh orang berdiri tak djauh dari mereka. Lalu mereka menatap ke Utara. Dari djurusan itu sekira sepuluh orang mendatangi. Dan ketika mereka menatap kekiri, mereka kaget sebab terdengar suara bedil jang dikokang.
Seseorang dari jang mentjegat melompat kedalam muntik, lalu menjalakan lampu sorot muntik. Kedua bola lampu itu menjorotkan tjahajanja menerobos ke Utara, seperti seekor naga jang akan menerkam mangsanja.
— Simin! teriak mang Karna mendadak sambil menatap kekepala muntik No. 11 itu.
— Bagus Karna. Sekarang aku bisa lagi membawa muntik inj kembali keperkebunan bersama engkou sebagai masinis pembantu. Mari naik. Kita mundur keperkebunan ! perintah Karna dengan sorot mata jang me-nikam².
— Tapi, kau ikut siapa ?
— Sekarang aku berbadju matjan loreng. Kau djadi laskar pemberontak. Mau ikut aku atau mau ikut pemberontak ?
— Maaf, Simin. Aku mau ikut kemerdekaan bangsa! seru Karna.
Sebuah peluru meletus. Gema suaranja berkumandang dititik air hudjan jang menderas, Karna menggeletak membudjur rel. Lalu suara itu disusul dengan suara tembakan jang beruntun dari arah djalan besar. Orang² meniarap. Manik dan Karna serentak melemparkan granat kegerbong dan kemuntik. Tapi tak luput dua peluru menembus dada kedua orang, itu. Dan pertempuranpun terdjadi antara laskar jang menunggu muntik No., 11 dengan serdadu Nica jang diantaranja terdapat Simin. Lalu terdengar lagi suara granat jang meledak. Muntik itu reboh kekanan rel. Tapi gerbong itu tetap tegak mengindjak bumi.
Diantara suara tembakan itu terdengar suara teng menderu didjalan raja sambil memuntahkan pelurunja. Laskar² meninggalkan daerah pertempuran dan lari ke Timur.
Setelah itu muntik No, 11 tak pernah lagi berkeliaran diantara rel² jang melintang memandjang diseputar perkebunan itu, karena mesin²nja sudah tak bisa dipergunakan lagi.
JAJASAN INDONESIA
,,Maksud dan tudjuan Jajasan ini adalah membina serta mengembangkan potensi dajatjipta bangsa Indonesia disegala bidang untuk meningkatkan martabatnja sebagai manusia merdeka jang berakal dan berbudi.
Madjalah sastra "HORISON adalah salah satu realisasi dari tudjuan tsb, Di samping itu, Jajasan akan bergerak dalam bidang² lain, seperti drama, musik, tari, penerbitan buku dsb. Tentu sadja Jajasan terbentur oleh batas² kemampuannja materielnja. Sebab itu, Jajasan mengundang pada orang² jang bersimpati untuk ikut membantu Jajasan, baik dibidang materiel, maupun dibidang kekarjawanan.
Demikianlah, moga² dalam usaha bersama, tudjuan ,,membina serta mengembangkan potensi daja tjipta bangsa Indonesia disegala bidang² bisa tertjapai.
HONORARIUM PENGARANG DAN HADIAH TAHUNAN
Salah satu tudjuazn HORISON, ialah menghargai karja² para pengarang, tidak sadja setjara spirituil, tapi djuga materiel. Tapi HORISON djuga tertumbuk oleh batas² kemampuannja. Maka untuk sementara, redaksi HORISON memutuskan untuk memberikan honorarium ;
- Bagi tjerpen, esei — minimum Rp. 75,—
- Bagi sandjak — minimum Rp. 50,—
- Lain² karangan, menurut pertimbangan redaksi berdasarkan sub a) dan b).
Pada tiap² tahun, HORISON akan membentuk suatu Dewan Djuri jang representatif untuk menilai karja² jang dimuat dalam madjalah HORISON guna diberi hadiah tahunan HORISON.
Untuk sementara akan diadakan kategori² hadiah bagi tierpen, esei dan sandjak.