| Sebuah gambar seharusnya muncul pada posisi ini dalam naskah. Untuk menggunakan keseluruhan pindaian halaman sebagai penampung, sunting halaman ini dan ganti "{{gambar hilang}}" dengan "{{raw image|Horison 01 1966.pdf/19}}". Sebaliknya, jika Anda mampu untuk menyediakan gambarnya, maka lakukanlah. Untuk panduan, lihat Wikisource:Pedoman gambar dan Bantuan:Menambah gambar. |
Zaini
SIKAKEK dan BURUNG DARA
m. fudoli
SIKAKEK berdiri diambang pintu, Ia sedang menunggu menantunja datang dari pasar membeli kembang. Sudah dari tadi ia berdiri disitu dan menantu nja belum djuga datang. Sekarang hari Djum'at, pagi sekira djam delapan dan sikakek akan pergi kekuburan. Disebe lah utara itu diatas kaki sebuah bukit, disitu istrinja terbaring didalam bumi. Itu satu setengah bulan jang lalu seba gai satu permulaan, dan permulaan itu tak akan berachir hingga Tuhan mem bangkitkan kembali manusia² dari liang kubur. Sikakek memang pertjaja pada Tuhan, sebab ia jakin bahwa Ialah jang menghidupkan dan jang mematikan se genap machluk jang ada dialam ini. Se bab itu ia harus tidak menjesali atau se-tidak nja harus tidak teramat sedih atas kematian istrinja. Kehilangan ada lah sesuatu jang memang mesti terdja di, dan setiap manusia memang harus benar menjadarinja.
Sikakek memandang ketimur. Matanja kini melampaui pagar halaman, me lintasi ladang djagung, dan melalui se la numpun bambu ia menampak se orang perempuan berdjalan tergesa². Ita dia sudah datang, pikir sikakek. Kembang jang dibelinja tentulah kem- bang jang harum, dan biar tjuma sedikit ia akan menaburkannja diatas pusa ra istrinja. Sikakek mengeluas² djeng- got pendeknja jang sudah putih, lalu masuk sebentar kedalam dan kemudian kembali berdiri lagi diambang pintu itu
Perempuan jang sedang bendjalan di- pematang ladang itu adalah menantu nja. Perempuan itu adalah istri anak le lakinja. Adalah sesuatu jang memang merawankan hati, bahwa anaknja jang tjuma satu itu telah pergi mendahului nja. Setahun jang lalu perempuan itu harus mendjadi seorang djanda. Seta hun jang lalu sikakek mesti mentjatat dalam hatinja sebuah kehilangan jang sudah tidak dapat dielakkannja lagi. Anaknja jang laki itu telah meninggal dalam suatu porlombaan kerapan sapi, dan sekarang istrinjapun telah menju sulnja pula.
Sikakek masih berdiri diambang pin tu, lalu melangkah kehalaman dan tat kala dilihatnja perempuan itu muntjul disitu ia segera menjapanja.
- - Kenapa lama ?
- - Pendjualnya belum datang sahut siperempuan.
Perempuan itu membawa sebuah
- -Sibujung kemana? tanja dikakek.
- - Mungkin sedang pergi mengadji
- - Sekarang hari Djum'at. Anak² ti
- - Mungkin sedang bermain.
Tiba² dari arah samping rumah mun
Sikakek membalikkan tubuhnja.
- - Dari mana sedjak tadi? tanjanja.
- - Dari ladang djawab anak ketjil ibu
- - Ladang mana ?
- - Dapat mana? tanja sikakek.
- - Pak Gopar
- - Engkau minta ?
- - Aku diberi
- Awas, djangan engkau minta²
- Anak itu mendekat sambil mengupas
- Buat apa ? tanja sikakek.
- - Buat makan burungdara djawab
- - Nanti sadja. Sekarang kita keku-
- - Burungdara itu mungkin lapar.
- - Tadi sudah kuberi makan semua
- Sambil ter-senjum dipegangnja bahu
- - Aku ingin memberi makan burung
- - Burung itu tidak lapar kas si-
- - Tapi sikelabu harus kuat. Harus
- - Tidak nanti sore, tapi besok.
HORISON-19