sikap Hong-thian-lui yang tegang dapat dilihat Lu Targ-wan, terasa bahwa waktu Hong-thian-lui cepat dan kurang wajar, dalam hati ia membatin: „Maklum bocah kampung, baru keluar lantas membuat onar dan lucu.”
Selanjutnya Hong-thian-lui unjuk hormat kepada Lu Tang-wan, Lu Tang-wan berkata; „Tak usah sungkan!” enteng saja ia jinjing dan membangunkan Hong-thian-lui. Namun demikian Hong-thian lui masih berhasil menekuk dengkul dan membungkuk tubuh seténgah hormat. Diam-diam Lu Tang-wan sudah menjajal Lwekangnya, ternyata memang lihay, hati rada terhibur dan senang, katanya; „Hari ikut aku !.’
Khu Tay-seng pun ikut masuk.
„Tay-seng !” kata Lu Tang-wan, „keluarlah bantu menyambut tamu. Kalau ada tamu agung datang, mintakan maafku kepada mereka aku perlu sedikit tempo baru bisa keluar lagi.”
46