„Bocah ini tidak tahu adat, saudara Khu, kenapa kau sungkan terhadapnya?”
Berjabatan adalah tata kehormatan yang layak Hong-thian-lui sedikitpun tidak curiga dengan wajar ia ulur tangannya untuk jabatan, tak nyana begitu saling genggam segeiombang tenaga menggetar sehinana pergelangan tangannya sakit kesemutan. Berbareng kelima jari Piau siauya laksana jepitan besi menceramnegke urat nadinya
Karena Hong-thian-lui terperanjat, baru sekarang ia insaf bahwa orang sengaja menjajal kepandaiannya.
Dikata „Jajal„ sebenarnya kurang tepat Untuk jajal seharusnya cukup saling raba atau tutul saja, Tapi dalam keadaan tanpa siap siaga lawan mendadak melancarkan sergapan licik dengan kekuatan tenaga dalamnya, malah mencengkeram nadi pergelangan tangannya lagi tujuannya jelas untuk mendesak posisinya menjadi pihak yang digempur tanpa balas atau melawan, hakikatnya tidak mungkin dikatakan „jalal” atau adu kepandaian segala nya?
38