ini suda tahu dan sengaja tanya, jelas hendak mempersulit dan mencari gara-gara.
Serta merta Hong-thian-lui melengak lagi: „Kartu nama apa?” tanyanya.
Penyambut tamu itu tertawa dingin, jengeknya : „Kartu nama yang tércantum nama besarmu. Kartu nama saja tidak tahu, kau mau mengacau ya ?
Sebetulnya apakah kartu nama itu Hong-thian lui tahu. Tapi dia tidak pernah berpikir untuk menyiapkan kartu namanya. Ayahnya juga tidak menyangka dia bakal menghadapi kesulitan seperti sekarang. Lu Tang wan adalah sahabat karibnya, dengan sepucuk surat pribadi yang dibawa anaknya, ia kira sudah jauh dari cukup.
„Aku punya sepucuk surat untuk disampaikan kepada Lu locianpwe, setelah bertemu tentu dia tahu siapa aku ini.” terdesak oleh keadaan terpaksa Hong-thian-lui memberikan alasannya.
„Surat siapa itu?”
„Dari ayahku !”
30