megah di kelilingi tembok tinggi dengan berbagai cat warna warni, pintu besarnya dicat merah mengkilap, diluar pintu kanan kiri terdapat sepasang batu singa yang tinggi besar. Disebelah belakang sana kelihatan taman bunga dengan berbagai tanaman yang beraneka ragam.
Saat mana tamu-tamu undangan banyak yang sudah datang, didepan tinggal dua orang lagi, lalu gilirannya masuk. Baru saja kakinya menginjak undakan, salah seorang menyambut tamu maju menghadang.
Baju yang dipakai Hong-thian-lui kasar warnanya luntur lagi, setelah menempuh perjalanan ribuan li jauhnya, maka pakaiannya kotor dan berdebu, dalam pandangan penyambuttamu itu, dianggap sebagai pengemis keliling.
„Hai, untuk apa kau kemari ? Minta arak atau sisa hidangan?” Tunggu saja diluar” demikian bentak penyambut tamu itu.
28