djoega dapat dikalahken dan djadi binasa, sedang tachtanja dipoenjaï oleh BOE ONG jang tersamboet ka dalam kota oleh goemoeroeh soeraknja sekalian rahajat moelja dan hina. Moelai dari pada waktoenja baroe doedoek memerintah di dalam ini karadjaän besar, baginda BOE ONG mengoesahaken dirinja aken berboewat roepa-roepa kabaikan, soepaja rahajat boleh meloepaken kadoekaännja hati jang telah datang padanja di bawah tachtanja baginda keizer TIOE. Pada BI TJOE KEE dan BI SOE IAN, doewa poetra dari kaoem SIANG, baginda ada berlakoe manis sekali. Baginda idsinken marika itoe aken pandang dirinja seperti toeroenan SENGTONG dari permesoeri pangkat pertama, dan dari sebab baginda tiada berkoewasa aken serahken pada marika itoe, karadjaän besar jang baroe didapatken, baginda kasih ijaorang mendjadi radja di satoe tampat bernama Song.
BOE ONG poenja toeroenan jang kasembilan, ada poenja satoe poetra jang bernama KHONG HOE KEE, dan poetra ini ada djadi kapalanja satoe tjabang-kaoem jang pake nama KHONG. Ini KHONG HOE KEE poenja toeroenan jang kalima, HONG SIOK namanja, bertampat di dalam bilangan karadjaän Louw dengan lantaran adanja hoeroe-hara. Tjoetjoenja ini HONG SIOK, SIOK LIANG GIT namanja, ada poenja sembilan anak-prampoewan, tapi tida sekali ada poenja anak lelaki. Sasoedahnja ija poenja istri meninggal, SIOK LIANG GIT ini ingin menikah kombali, soepaja bisa mendapat toeroenan lelaki, dan ija ada penoedjoe pada koelawarga GAN, di mana ada tiga anak prampoewan jang telah roemadja-poetri.
Sasoedahnja SIOK LIANG GIT datang meminang pada kapalanja koelawarga GAN itoe, lantaslah djoega ajah ini memanggil anaknja jang tiga itoe, dan berkata pada marika:
„Pembesar di negri Tjouw hendak datangken kahorma-