Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/9

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini telah diuji baca

kata asu dalam bahasa Indonesia purba. „kaum tua masih mengutjapkan bunji s” (Wielenga).

10. Perubahan bunji terdjadi dengan bersjarat atau tidak dengan bersjarat. Bunji pepet dalam bahasa Indonesia purba berubah dengan tak bersjarat dalam bahasa Dajak mendjadi e. Dengan begitu kata teken (tongkat) jang terdapat dalam bahasa Indonesia purba men­djadi teken dalam bahasa Dajak. Dalam bahasa Howa jang erat bertali dengan bahasa Dajak, huruf pepet hanja mendjadi e kalau huruf itu ditekankan. (teken mendjadi tehina).

11. Kadang2 perubahan bunji itu bergantung pad a sjarat, kadang2 lagi pada sebab. Sjarat2 tentang perubahan bunji itu dalam bahasa* Indonesia atjapkali dapat diketahui. Tetapi tentang sebab2 berlaku pendapat Hirt tentang bahasa Junani jang dikemukakannja dalam karangannja ’’Handbuch der Griechischen Laut-und Formenlehre” . Pendapatnja itu berbunji: ,,Sebab2 perubahan bunji atjapkali tak dapat diketahui”. Bagaimana djuapun dalam penjelidikan tentang soal itu banjak teori telah dikemukakan. Beberapa teori saja sebut dibawah ini dengan tak dibubuhi komentar: „Dalam idiom2 Toradja terdapat suatu hal jang chusus, jaitu s beralih mendjadi h. Pada hemat saja kobiasaan untuk mengikir gigi atau memotongnja sebagian, menjebabkan peralihan bunji itu.” (Adriani). Dalam bahasa Karo bunji a tetap mendjadi a, tetapi disamping kata jah (disana) terdapat kata joh ,,karena gerak bibir jang menundjukkan arah „sana” itu.” (Joustra). „Kebiasaan memakan sirih menjebabkan bangsa Djawa atjapkali mengutjapkan konsonan bibir atau labial sebagai konsonan langit2 lembut atau velar, misalnja kata pestul (pistol) diutjapkannja sebagai kestul.” (Roorda).

12. Tentang hal bunji dalam bahasa2 Indonesia terdapat banjak kemungkinan jang mempengaruhi bunji itu, tetapi kemungkinan2 itu tak dapat dinamai „sebab” atau „sjarat” perubahan bunji menurut artinja jang sebenarnja. Kemungkinan2 itu ialah analogi, etimologi bangsa, ketjenderungan akan diferensiasi, bunji sebagai lambang, meniru2 bunji, melemahkan arti kata2, ketjenderungan akan mempergunakan kata2 jang terdiri atas dua suku kata.

13. Peranan analogi dalam hal bunji dalam bahasa2 Indonesia adalah sama pentingnja seperti dalam bahasa2 Indogerman. Katabilangan dalam hampir semua bahasa Indonesia mengalami pengaruh