Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/35

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini telah diuji baca

kadang² konsonan jang diduakalikan di-pisahkan oléh hamza. Oléh sebab itu dalam „tjerita tentang pengajau” (téks Seidenadel) terdapat kata: nan amamqma (orang tua²).

84. Bunji h dan q djarang sekali diduakalikan. Hal itu terdapat dalam kata ěhham (daging babi) dan leqqer (léhér).

85. Biasanja vokallah jang diduakalikan, konsonan djarang didua- kalikan. Kata lommra (telah diam) dalam bahasa Madura adalah ketjualian dari kebiasaan itu, menurut hukum jang telah dikemukakan dibawah nomor 86.

86. Hal menduakalikan bunji dalam bahasa² Indonésia jang sekarang berlaku berdasarkan beberapa faktor seperti berikut :

I. Djika akar kata dimulai dan berachir dengan konsonan itu djuga, maka akar kata itu diduakalikan, ialah satu tjara untuk membentuk kata dasar, misalnja dalam kata tottot (djinak) dalam bahasa Kangea. Keadaan itu terdapat djuga dalam bahasa anak², misalnja dalam bahasa anak² Atjéh: mammam (kuwé).

II. Membentuk kata² dari kata dasar. Dalam hal itu atjapkali dengan tjara bersahadja diadakan tambahan, seperti dalam bahasa Toba (awalan) mar + kata dasar rara mendjadi kata sifat marrara (mérah), atau dalam bahasa Madura menurut hukum bunji tentang kata jang mendahului: dari ŋator + (achiran) aghi terdjadi kata ŋatorraghi (menawarkan).

III. Ber-bagai² hukum bunji. Dalam bahasa Madura tiap konsonan jang mendahului r dan l diduakalikan ketjuali n, ŋ, w. oléh sebab itu terdapat kata lommra jang telah disebut tadi disamping kata lumrah jang terdapat dalam bahasa lain. Dalam bahasa Talaud r jang mengikuti vokal jang ditekankan bunjinja, diduakalikan. Tentang hal menduakalikan menurut bunji pepet, lihatlah keterang- an dibawah nomor 5.

IV. Asimilasi. Dalam bentuk bahasa Toba-lisan djika bunji sengau dihubungkan dengan konsonan letus takbersuara (ténuis), maka ter-djadi asimilasi bunji sengau itu dengan bunjiletus takbersuara (ténuis); oléh sebab itu kata gantuŋ jang terdapat dalam bentuk bahasa Toba-tulisan dan bahasa Indonésia purba mendjadi gattuŋ dalam bentuk bahasa Toba-lisan. Dan dalam "Bataksch Lessboak" van der Tuuk terdapat kalimat : marrara do dibahen lamun-na (mérah karena telah matang); kata dibahen lamun-a diutjapkan sebagai dibahel lamun-na dalam bahasa Toba.

34