Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/10

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini telah diuji baca

analogi itu. (lihatlah djuga karangan Paul "Prinzipien der Sprachgesehichte" , Bab. "Kontamination").

Dalam bahasa Indonesia terdapat kata r-2atus dan r-libu; dalam bahasa Gajo terdapat kata ribus dengan mengambil bunji2 s dari r-2atus.

14. Pengaruh etimologi rakjatpun sama pentingnja seperti dalam bahasa2 Indogerman. Kata rojowerdi dalam bahasa Djawa sama artinja dengan kata lazuwerdi dalam bahasa Iran (Persia); lazuwerdi berarti : biru seperti langit. Kata rojowerdi bersandarkan kata rojo (radja), se-akan2 warna itu merupakan warna keradjaan. Dalam bahasa2 In­donesia atjapkali terdapat „etimologi rakjat tentang tata bahasa”. Kata yoga dalam bahasa India kuno mendjadi iyoga (periuk) dalam bahasa Karo. Tetapi oleh sebab huruf i- dalam bahasa Karo adalab suatu awalan, maka kata iyoga tampak oleh bangsa Karo sebagai awalan y + oga. Dengan begitu dari kata iyoga diturunkan kata dasar oga jang sekarang dipakai disamping kata iyoga. Atau, oleh sebab dalam bahasa Djawa kuno bentuk ka- atjapkali merupakan awalan, maka kata kawi (penjair) dalam bahasa India kuno dipandang sebagai kata jang diturunkan, oleh sebab itu diturunkan kata dasar awi (membuat sjair) dari kata kawi itu dan dari kata dasar awi itu diturunkan lagi kata2 lain, misalnja kata awiawian (sjair).

15. Tjenderung diferensiasi. Kalau suatu kata, jang mula2 hanja mempunjai satu arti sadja tetapi kemudian ber-beda2 artinja, maka begitu djuga halnja tentang bunji. Hal itu terdjadi baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa2 Indogerman. Kata messe dalam bahasa Djerman-pertengahan mendjadi Mass dalam bahasa Djerman sekarang (mis dalam geredja) dan kata Maas jang dulu berlaku se­karang mendjadi Messe (pekan raja, jaarmarkt). Begitu djuga kata ulu (kepala) dalam bahasa Indonesia purba berubah artinja mendjadi „dulu” dalam bahasa Bima. (dan uru berarti „permulaan”.)

16. Perlambangan bunji (geluidssymboliek), terdapat dalam hal menduakalikan kata2, misalnja dalam kata uncal-ancul (me-lontjat2 kesini dan kesana) dalam bahasa Sunda disamping kata ancul (melontjat); djuga dalam hal mengubah huruf jang tak keras bunjinja mendjadi huruf jang keras bunjinja seperti dalam kata aizo-2-aizo-2 (agak asam) dalam bahasa Nias disamping kata aiso-2 (asam) dan hal2 lain barangkali terdapat perlambangan bunji. Sebaliknja, saja tidak menjetudjui pendapat, bahwa dalam pembentukan duratif, bunji dipergunakan