Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi
Bahasa Indoésia purba :
gaway (membuat)
patay (membunuh)
punay (burung dara)
Bahasa Tagalog:
gaway (membuat sihir)
pataypunay
Bahasa Djawa kuno :
gaway
pati
Bahasa Djawa baru :
gawé
Bahasa Melaju :
matipunay
Bahasa Dajak :
'gawi
patäypunäy
Pada tabel itu tampaklah dua hal. Apakah sebabnja dalam bahasa Melaju dan bahasa Dajak dalam satu hal terdapat diftong seperti dalam kata punuy dan punäy dan dalam hal lain terdapat satu vokal seperti dalam kata mati dan gawi? Apakah sebabnja kata ay dalam bahasa Indonesia purba mendjadi i dalam bahasa Djawa kuno (dalam kata pati); sedang dalam kata gawé tampak bunji é dengan djalan kontraksi jang langsung?
Beberapa gedjala dalam bahasa2 di Philipina memberikan djawaban atas pertanjaan2 itu. Dalam bahasa2 itu satu kata itu djuga jang berachir dengan diftong terdapat dengan beberapa bentuk, diikuti oleh sebuah achiran atau énklitika. Kata balay dalam bahasa Indonesia purba ialah balày (rumah) djuga dalam bahasa Ibanag, tetapi „rumahmu” ialah balè-ra. Dalam bahasa Tagalog bentuk pasif dari kata bigay (memberi) ialah bigyan. Kami berpendapat, bahwa pertukaran bunji itu terdapat djuga dalam bahasa Indonésia purba; djadi kata gaway kadang2 diutjapkan sebagai gaway kadang2 lagi sebagai gawi. Dalam bahasa Djawa kuno, bahasa Melaju, bahasa Dajak, dsb. dalam hal pertukaran bunji itu kadang2 diftong kadang2 lagi vokallah jang dipertahankan. Oleh sebab itu terdapat kata mati dan punay dalam bahasa Melaju.