Lompat ke isi

Halaman:Geografi Dialek Bahasa Minangkabau.pdf/40

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi
16


2.2.5 Mobilitas Penduduk

Perincian mengenai keadaan mobilitas penduduk Kabupaten Pesisir Selalan diperoleh melaiui pengamatan serta ketecangan yang didapat dari pemuka-pemuka masyarakat di daerah itu. Umumnya hal itu tenwujud dalam bentuk (1) bepergian ke luar daerah kabupaten atau propinsi, (2) bepergian di dalam daerah kabupaten sendiri, dan (3) migrasi lokal, yaitu pindah dari tempat asal ke tempat lain di dalam kabupaten itu sendiri untuk tujuan menetap.

Bepergian ke luar daerah kabupaten sendiri bertujuan (1) merantau, (2) berdagang, dan (3) melanjutkan sekolah. Tujuan meranta pada hakikatnya adalah mencari nafkah dalam rangka upaya meningkatkan taraf kehidupan yang lebih baik. Biasanya hal itu dilakukan oleh kepala keluarga, kemudian setelah mendapat pekerjaan atau mata pencaharian yang tetap berulah disusul oleh keluarganya. Akan tetapi, tidak jatang pula kepergian mereka itu lang-sung diikuti oleh keluarganya. Para perantau itu ada kalanya menetap di tem-pat yang baru itu untuk selama-lamanya, tetapi sekali-sekali, mereka pulang misalnya pada petistiwa-peristiva bersejarah untuk melepas rindu kepada kampung halaman dan sanak familinya.

Bepergian untuk berdagang biasanya dilakukan secara reguler. Pekerja-an ini dilakukan oleh orang yang memang telah menilih berdagang sebagai lapangan hidupnya. Dari kampungnya mereka membawa hasil bumi dan kem-bali membawa barang-barang Kebutuhan masyarakat setempat. Kota-kota yang dikunjungi umumnya Padang dan sungai Penuh.

Anak-anak muda yang meninggalkan desanya pada ummumnya dalam rangka melanjutkan sekolah. Sebagian dari mereka ada yang kembali ke de-sanya dan ada pula yang tidak kembali karena terus menetap di tempat-tem-pat lain di luar desanya atau di luar kabupaten itu. Tidak jarang pula yang menetap di luar Propinsi Sumatera Barat. Mereka yang kembali ke desanya itu sebagian besar adalah mereka yang kurang berhasil dalam lapangan studi-nya. Mereka kembali hidup di tengah masyarakat desanya, baik sebagai pe-tani tradisional, tukang, atau sebagai pedagang dan pengusaha kecil-kecil-an. Kenyataan ini sekurang-kurangnya akan membawa kepada suatu kesim-pulan bahwa faktor pendidikan telah membantu anak-anak muda yang tekun, berkemauan keras, dan rajin menetap di kota-kota, baik selaku aparat peme-rintah maupun sebagai pedagang. Mungkin merupakan sebab yang perlu di-teliti bahwa perkembangan desa jauh lamban jika dibandingkan dengan per-kembangan kota.