BAB IV KESIMPULAN
4.1 Kesimpulan
Dari uraian di atas kita dapat menyimpulkan hal-hal seperti berikut ini.
Antara variasi fonologis dengan variasi morfologis dan leksikal pada TP-TP tertentu di daerah penelitian ini setelah diperbandingkan terdapat hubungan yang paralel, yakni bersama-sama turut membedakan antara TP yang satu dengan TP yang lain. Sebagian besar perbedaan itu terletak pada perbedaan fonologis, kecuali pada TP 23, 24, 25, dan 26. Dalam hal ini variasi leksikal memperlihatkan perbedaan yang cukup besar.
Di daerah Pesisir Selatan bagian selatan (Kecamatan Pancung Soal) didapati fonem / ę / yang memang berkontras dengan Foner / e /, sedangkan di daerah lainnya tidak ditemui.
Bahasa Minangkabau daerah Pesisir Selatan secara Unum memperlihatkan variasi yang agak besar. Titik-titik pengamatan di bagian Utara yang berbatasan dengan Kotamadya Padang tidak memperlihatkan perbedaan yang besar. Kecuali beberapa TP yang memperlihatkan perbedaan wicara, yaitu pada TP 1, 2, 4, 4, 5 dan 6. Di bagian tengah dan selatan umumnya TP-TP itu, memperlihatkan perbedaan subdialek, tetapi empat TP di bagian selatan (TP 23, 24, 25,kata lain, daerah Kecamatan Pancung Soal merupakan dialek bahasa Minangkabau tersendiri. Dalam hal ini, tidak salah kalau dialek bahasa Minahgkahau di daerah ini dinamakan dialek Pancung Soal.
Daerah utara dan tengah (yang tampak hanya mempunyai perbedaan wicara dan subdialek) dapat dipandang sebagai dialek tersendiri. Daerah ini digolongkan ke dalam daerah dialek Kubuang Tigo Baleh/Sungai Pagu (Medan 1980, 230). Hal ini agaknya beralasan karena secara historis pada umumnya
140