Halaman:Garuda Perdamaian (Garuda Indonesia, 1957).pdf/96

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi


terutama berhubung dengan perkembangan politik dunia dewasa ini (timbulnja dua blok didunia).

Untuk memberi gambaran jang mudah terhadap persoalan jang dihadapi oleh Timur Tengah tersebut, maka persoalan-persoalan itu dapat dibagi sebagai berikut:

a. Pertentangan Arab-Israel.

b. Pertikaian politik negara-negara Arab.

c. Nasionalisme Arab.

d. Pertahanan Timur Tengah dalam rangka perlentangan dua Blok.

2. Pertentangan Arab-Israel.

Pertentangan antara bangsa Arab dan Jahudi adalah merupakan pertentangan jang permanen di Timur Tengah. Sebab-sebab dari pertentangan itu adalah terletak pada adanja negara Israel itu sendiri ditengah-tengah negara-negara Arab.

Untuk dapat mengetahui latar belakang dari pertentangan jang boleh dikata terus menerus antara kedua bangsa itu, kita harus membuka sebentar lembaran sedjarah dari perkembangan negara Israel. Dengan demikian maka kita nanti akan mengetahui sikap politik Israel terhadap negara-negara Arab; apa sebab ia mengadakan politik expansi; apa sebab menuntut semenandjung Gaza; apa sebabnja ia mengadakan agressi terhadap Mesir serta tuntutan-tuntutan adanja kebebasan lalu-lintas diterusan Suez dan adanja keamanan pelajaran diteluk Aqaba.

Sedjarah Palestina adalah sedjarah jang tua sekali dan siapa bangsa jang mula-mula mendiaminja sudah tidak diketahui lagi. Sebelum bangsa Jahudi atau Israel menduduki daerah itu, daerah itu diduduki oleh bangsa Kanaan atau bangsa Philistijn. Nama Palesjina adalah berasal dari kata Philistijn itu. Kediaman bangsa Philistijn tersebut berada disepandjang pantai Laut Tengah didaratan rendah sungai Jordan.

Kira-kira pada tahun 1400 S.M. (sebelum Masehi), bangsa Jahudi berhasil menduduki daerah Palestina dan kemudian mereka lalu berangsur-angsur menetap didaerah itu. Sedjak itu bangsa Jahudi memandang Palestina sebagai tanah-airnja, bahkan menurut kitab sutjinja, jakni Kitab Sutji Perdjandjian Lama disebutkan, bahwa Jaweh

92