Halaman:Garuda Perdamaian (Garuda Indonesia, 1957).pdf/144

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi


TJERITERA TENTANG T.N.I. DI GHAZA.
— Masak sajur lode dengan susu sebagai santan.
L.E. MANUHUA.

Kalau pesawat terbang KLM flight-number 821 pada tanggal 3 Djuni 1957 meninggalkan Rome pada djam 10 malam, maka keesokan harinja tanggal 4 Djuni djam 4.25 pagi-pagi benar, mendaratlah ia dilapangan terbang Cairo. Buat saja penerbangan kali ini tak dapat saja lupakan begitu sadja.

Sebab disementara penerbangan inilah, usiaku bertambah setahun. Sama dengan pengalamanku setahun jang lalu. Antara Soa-Siu (ibu kota Propinsi Irian Barat) menudju Pelabuhan Bitung, saja bertambah usia satu tahun.

Hari masih agak gelap.

Ketika saja muntjul dari pintu pesawat, nampaknja saudara Salim Roshidi dari bagian Pers Kedutaan kita dan saudara Ismail Albandjar, pegawai Lokal pada Militer Attache kita telah menunggu-nunggu saja dengan tidak sabar. Kawan-kawan lama: di Makassar, di Cairo dan Beyruth. Pertemuan ini mendjadi lebih meriah lagi, ketika tiba kami dikamar tunggu airport. Ternjata bersama-sama dengan Kapten Widya Latief, ketiga kawan ini telah menunggu saja sedjak djam 3 pagi dan chusus untuk itu, sepandjang malam mereka tidak tidur.

„Apa rentjana saudara dan berapa lamakah akan tinggal di Mesir”? tanja Kapten Widya.

„Ini hari saja mau tidur, sebab semalam-malaman dipesawat tidak tidur, lagi pula selama di Itali, Paris, Djerman, Inggris dan Nederland, tidak pernah tjukup tidur. Djika mungkin sore ingin saja tindjau pembangunan didalam kota Cairo untuk saja bandingkan dengan apa jang saja lihat 2 tahun jang lalu. Besok ingin saja menindjau tentara kita jang bertugas sebagai anggota polisi P.B.B., kemudian lusa tanggal 6 Djuni saja akan meneruskan perdjalanan ke Bangkok dan untuk perdjalanan landjutan ke Bangkok dan Djakarta sudah saja bereskan dengan KLM di Rome”. Demikian dengan spontaan saja mendjawab pertanjaan Kapten Widya itu.

Kawan-kawan ini ketawa mendengar djawaban saja itu.

„Saudara tahu”?, kata Kapten Widya Latief. „Tentara kita bertugas di Ghaza. Markas besarnja terletak di Rafah, 400 km dari kota Cairo ini, atau paling tjepat naik jeep 9 djam.

Masuk kesana tidak gampang dan kesempatan untuk kesanapun tidak saban bari. Satu-satunja kesempatan jang paling baik ialah, kalau sebentar djam 11.00 saudara berangkat dengan Majoor Soekarno jang hendak kembali keposnja. Nah, bagaimana”?

140