di Inggris.
Melalui Jacques Roux, Jean Varlet, dan Enragés dari Revolusi Besar Prancis, kita menemukan sebuah penerapan ulang dari konsep-konsep yang sama yang dipegang oleh Muenzer dan Winstanley dalam konteks sejarah yang baru: yaitu Paris pada tahun 1793 -sebuah kota berpenduduk hampir dari 700.000 orang, yang terdiri dari (sebagaimana Rudé beri tahu pada kita) "pemilik toko kecil, pedagang kecil, pengrajin, pekerja keliling, buruh, gelandangan, dan rakyat miskin kota." Roux dan Varlet menyebut diri mereka orang-orang yang pada dasarnya tak berkelas yang mungkin bisa disamakan dengan massa Negro yang membusuk di distrik Watts di Los Angeles. Anarkisme mereka akhirnya bersifat urban. Jadi bisa dibilang kalau anarkisme mereka ditujukan pada kebutuhan karena mereka terus merasa lapar dan perut mereka keroncongan, pada penderitaan kaum duafa di distrik Gravilliers yang gelisah. Provokasi mercka cenderung soal biaya hidup ketimbang hak atas tanah dan lebih pada kontrol rakyat atas administrasi Paris ketimbang pembentukan sebuah persaudaraan komunal di pedesaan.
Pierre-Joseph Proudhon, dengan caranya sendiri, menyelidiki dengan sangat penting soal konteks ini. Dia berbicara langsung dengan kebutuhan pengrajin, yang dunia dan nilai-nilainya terancam oleh Revolusi Industri. Latar belakang dari hampir semua karyanya adalah ekonomi desa Franche Comte, kenangan akan Burgille-en-Marnay dan tour de France yang ia buat sebagai pengusaha percetakan. Ia seorang paterfamilia jinak, seorang yang dalam hatinya adalah seniman yang membenci Paris ("Saya merasakan penderitaan pengasingan saya, tulisnya dari Paris, “Saya membenci peradaban Paris... saya
tidak akan pernah bisa menulis kecuali di tepi Doubs, Ognon
35