nya dia bisa memperluas dan mengekspresikan dirinya. Dia bisa berkembang -berkembang dalam arti dunia yang sebenarnya berkembang dalam kesadaran akan kekuatan, vitalitas, dan kegembiraan."
Gagasan Read sayangnya tidak sepenuhnya berkembang. Namun ia memberikan titik berangkat yang menarik. Yang paling pertama bikin kita kaget adalah, baik ahli ekologi maupun anarkis, mereka memberi penekanan kuat pada spontanitas. Ahli ekologi, khususnya yang bukan sekedar teknisi belaka, biasanya punya kecenderungan untuk menolak gagasan "kekuatan atas alam." H berbicara alih-alih "menyetir" jalannya melalui situasi ekologis, untuk mengelola dan bukannya menciptakan ekosistem. Anarkis, pada gilirannya, berbicara dalam hal spontanitas sosial, melepaskan potensi masyarakat dan kemanusiaan, memberi kebebasan dan curahan yang tak terbendung untuk kreativitas orang. Masing-masing dengan caranya sendiri memandang otoritas sebagai penghambat, sebagai bobot yang membatasi potensi kreatif dari situasi alam dan sosial. Objek mereka bukan untuk memerintah sebuah domain, tapi untuk melepaskannya. Mereka menganggap wawasan, akal, dan pengetahuan sebagai sarana untuk memenuhi potensi suatu situasi karena memfasilitasi kerja dari logika suatu situasi, bukan malah mengganti potensinya dengan gagasan yang telah terbentuk sebelumnya atau mendistorsi perkembangan mereka menjadi dogma.
Sekarang, kembali ke karya Read. Yang selanjutnya mengejutkan kita adalah, seperti halnya para ahli ekologi, anarkis memandang diferensiasi sebagai ukuran kemajuan.
Ahli ekologi menggunakan istilah piramida biotik saat berbicara tentang kemajuan biologis; sementara Anarkis, menggunakan kata individualitas untuk menunjukkan kemajuan
27