yang luas menjadi tidak dapat dihuni.
Ahli ekologi sering ditanyai, dengan rada mengejek bahkan, didesak untuk menemukan titik kritis ekologi alam dengan tepat secara ilmiah -mungkin titik di mana alam akan menindih manusia. Ini sama saja dengan meminta psikiater kapan saat yang tepat ketika neurotik akan menjadi psikotik non-fungsional. Tidak ada jawaban seperti itu yang dapat tersedia. Tapi ahli ekologi dapat memberikan wawasan strategis ke arah mana manusia dapat pergi menyusul sebagai hasil perpecahannya dengan alam.
Dari sudut pandang ekologi, manusia sangat menyederhanakan lingkungannya. Kota modern merupakan perambahan regresif yang sintetis kepada alam, dari anorganik (beton, logam dan kaca) ke rangsangan unsur organik dan kasar pada varietas yang beraneka ragam dan luas.[1]
Luas sabuk perkotaan sekarang berkembang di daerah-daerah industri di dunia, tidak hanya menjadi serangan yang menjijikan terhadap mata dan telinga, tetapi juga sarat asap yang kronis, kebisingan, dan hampir tak bisa bergerak karena kemacetan.
Proses penyederhanaan lingkungan manusia dan membuatnya semakin elemental dan kasar ini memiliki dimensi
budaya dan fisik. Kebutuhan untuk merekaya populasi perkotaan yang sangat besar untuk mengangkut, mempekerja
10
- ↑ Untuk pengantar terhadap masalah ini, pembaca bisa mempertim- bangkan untuk membaca karya Cherles S. Elton, The Ecology of Invasions (New York: John Wiley & Sons, 1953); Edward Hyams, Soil and Civilization (London: Thames and Hudson, 1952); Lewis Herber, Our Synthetic Environment (New York: Knop, 1962); dan Rachel Carson, Silent Spring -yang terakhir ini perlu dibaca sebagai cacian terhadap pestisida ketimbang sebuah permohonan terhadap diversifikasi ekologis.