Lompat ke isi

Halaman:Drama di Gowa Kiskendo.pdf/9

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

- 7 -

„Uwa, istri saja dibawa kemana?” Regawa menanja dengan gugup.
Djatayu meleki matanja sebentar, hendak bitjara lebih djauh, tapi tidak kuwat, napasnja sudah habis dan diantara embusannja jang paling pengabisan, tjuma terdengar lapat-lapat: „Dibawa ke Aleng.........”
„Uwa, uwa Djatayu ........” demikianlah seruhnja sang Regawa berbareng dengan Laksmana, tapi radja burung jang gagah perkasa itu telah meninggal dunia.
Negeri Aleng ......... dimanatah negeri Aleng......... itu? oh, hatinja Regawa djadi makin ngenes, maka keduwa satriya itu lalu menangis atas nasibnja burung Djatayu jang setia utama itu.
Berbareng itu, rahajat burung jang beribu-ribu banjaknja diseputar situ, lalu sama berbunji menangis sangat ramenja. Diantara mereka, adalah bebrapa burung brandjangan jang mengetahui ketika radjanja itu bertempur dengan sang Rahwana diatas udara, mereka terbang kesana-kemari minta bantuan, tapi sebelumnja semua machluk bersajap dapat dikumpulkan, pertempuran itu sudah berachir, sang radja Djatayu telah djatoh kebawah.
O itulah suatu peristiwa jang heibat diatas udara. Ketika Dewi Sinta dibawa terbang dalam gendongannja Rahwana, putri itu mendjerit-djerit disepandjang angkasa.
„Hai, raseksa, aku hendak kau bawa kemana?” demikianlah kata ia dalam tangisnja. „Bawalah aku kembali, nanti kau mendapat upah apa sadja jang kau minta.”
„Ha, ha, ha, ha,” Dasamuka ketawa, kumandangannja bikin tergetar tjakrawala. U„pah jang aku minta, aku sudah dapat, jaitu dirimu, manis, dirimu jang aku sudah tjari ubek-ubekan diseluruh djagad.”
„Tidak, tidak, aku tidak sudi,” djawabnja sang putri.
„Lebih baik kau lepaskan sadja disini, supaja aku djatoh diatasnja itu gunung batu dan mendjadi hantjur, dari pada aku didjadikan istrimu, raseksa durdjana jang mendjidjikan.”
Itu waktu diatas awang-awang ada sebuwah titik hitam jang menghampiri mereka, makin lama makin dekat, tapi Rahwana tidak mendusin. Dewi Sinta menangis bertambah keras, ia meratap-ratap minta tulung kepada segala anasir jang berkuasa diudara, oleh karena ia ada titisannja Dewi Sri maka suaranja telah bikin seantero gunung mendjadi tergontjang.