— 6 —
bunji diwaktu malam, tapi kalau ia berbunji pada waktu sijang hari, tentu ada apa-apa jang luwar biasa.
Seliwatnja dari situ, suasana dirasakan engap, lebih lagi tatkala mereka mendengar suaranja burung jang tiada djuntrungannja, banjaknja beribu-ribu dari bangsa beraneka warna, jang semuanja sama berbunji dengan berbareng, brisik hiruk-pikuk menerbitkan rasa jang tiada karuan.
Keduwa orang satriya itu berdjalan menengah lebih djaoh, ketika sampai disuatu tempat jang penuh dengan puhun rubuh malang-melintang, mereka mendjadi kaget karena menampak saekor burung jang besarnja sebukit anakan, menumprah rebah diatas tanah, sajapnja patah sebelah dari mana terus mengalir darah tiada berhentinja. Burung raseksa itu menggereng-gereng dengan rupa menahan kesakitan jang sangat heibat. Ketika melihat kedatangannja sang Rama dan Laksmana, ia mengangkat kepalanja sedikit seraja berkata: „Bahagialah satriya jang baru datang. Kau ini siapa dan hendak pergi kemana?”
„Nama saja Rama dan ini ade saja Laksmana, anak dari Prabu Dasarata di Ngayodyapala.” djawab sang Regawa.
„O Djagad Dewa Betara, kebetulan sekali,” kata pula sang burung itu. „Kemari anakku, datanglah jang dekat. Namaku Djatayu, radja burung didaerah sini. Aku dengan ajahmu sobat karib sedari dulu.”
Regawa dan sang ade menghampiri lebih dekat, mereka mendjadi ngeri ketika menampak lukanja Djatayu jang bagitu rupa, selain sajapnja sebelah jang kutung itu, badannja pun sudah remuk sama sekali, maka ia tiada dapat berkutik sedikit djuga, tjuma kepalanja jang bisa digerakkan tapi sukar dan kalihatan amat sakitnja.
„Kenapa kau dapat luka dan menderita bagini, uwa?” menanja sang Rama dengan hati jang turut menanggung sengsara.
„Aku tiada bisa menuturkan terlalu banjak, sebab aku sudah tidak tahan. Aku mistinja sudah lama mati, tapi sebab hendak menunggu kepadamu, maka aku tahan-tahankan sehingga disa'at ini. Dengarlah, istrimu putri Mantili telah ditjolong oleh seorang radja raseksa, aku telah berdaja untuk merampas kembali, tapi aku kena dikalahkan, sajapku putus sebelah kena sendjatanja dan aku djatoh disini .............”
Djatayu tiada kuwat bitjara lebih djauh, napasnja sengal-sengal dan kepalanja teklok.