Lompat ke isi

Halaman:Drama di Gowa Kiskendo.pdf/7

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

— 5 —

Keduwa satriya itu lalu mendjatohkan diri dan duduk menjembah.
„Kaki Rama”, kata sang resi, „kenapa hatimu susah-susah amat? Sedang bagai manusia dan segala apa sadja jang hidup, antara kumpul dan pisah toch urusan biasa. Berkumpul suka-suka sebentar, akan kemudian berpisah dan sunji kembali, itulah sudah mendjadi hukum allam jang langgeng dan tiada bisa berobah lagi. Kesusahan djangan diterima dengan rasa bentji dan djemu, oleh karena itu ada suatu tanda akan datangnja kesenangan. Kesengsara'an jang terderita olehmu sekarang ini, adalah sangat besar harganja, lantaran dari kesengsara'an ini kau bakal mendapat kemulia'an jang tidak ada bandingannja”.
„Tapi pukulun,” djawab Regawa, „terlalu heibat penanggungan saja ini, hingga rasanja saja tiada sanggup menderita lagi.”
„Ha, ha, ha,” tertawa ki Dewa itu, „baru sedjimit sudah mengeluh keberatan, seperti bukan satriya, ha, ha, ha, ha, seperti bukan kesuma. Sudahlah kaki Rama, kau djangan berduka lagi, tiada lama kau akan dapat ketemukan kembali istrimu itu, djangan selempang, si Sinta jang tjantik nanti akan muntjul sebagai emas jang keluwar dari dapur pembakarannja, makin bertjahja, makin gilang-gumilang. Djangan tiada pertjaja, sebab ini adalah djandjinja Sang Hjuang Girinata.”
Regawa dan Laksmana lalu menjembah, maka Betara Narada pun sigra balik terbang keatas kahjangan kembali.
Hatinja sang Rama mendjadi sedikit lega, karena ia pertjaja bahwa Dewa tiada berdjustra. Mereka masuk kehutan Tikbrasara semingkin dalam, sehingga sampai disuatu tempat jang puhunnja tinggi-tinggi, mereka menampak suatu pemandangan jang menjeramkan hati. Disana-sini ada mengumpiang banjak darah, ketika ditjari tahu ternjata itu mengalir dari suatu gundukan bulu, jang menguruki sebatang puhun rubuh.
„Kakanda,” kata Laksmana, „itu tjuma sebuwah sajap burung jang telah putus dari badannja.”
Mereka menghampiri lebih dekat, betul demikian, entah sebrapa besar burungnja itu, sedang sebelah sajapnja sadja begitu rupa hingga puhun besar jang ditindihi telah mendjadi ringsak.
Dipedalaman hutan Tikbrasara makin rungkut dan makin gelap, tiba-tiba mereka mendengar suaranja burung tjabak jang berbunji dari dalam gerombolan puhun awar-awar. Ini hal sangat mengherankan, oleh karena biasanja burung tjabak ber-