- 4 -
”Gara-gara itu terus naik menjerang keatas Sorgaloka, pintu gerbang Selamatangkap kedubrakan menga dan menutup tiada berhentinja. Petetan dan kembang-kembang didalam taman kahjangan, gagarmajang-dewandaru, semua rubuh tersapu angin lisus jang bukan main heibatnja. Dewa-dewa sama lari mengungsi ketakutan, Bidadari geger pujengan djatoh bangun lari mendjerit-djerit. Putjak menaranja balai Mertjukapunda telah somplak rusak binasa. Kawah Tjandradimuka umeb mendidi bergolak-golak sebagi dikebur, hingga laharnja muntjrat naik keatas daratan.
Dalam keributan pantjawura jang heibat itu, lapat-lapat terdengar suaranja Sang Hjuang Djagadnata jang berkata kepada Resi Narada:
„Kakang, kakang Narada, pergilah turun ke Madyapada. Betara Wisnu sedang menderita duka nastapa, hiburilah hatinja, supaja dahuru pantjaroba ini mendjadi sirep. Lekas, kakang, lekas, djangan sampai keburu allam djagad mendjadi musna oleh karenanja.”
Betara Narada lalu terbang mengikuti angin jang sedang rusuh itu, histanja seperti sebutir areng lelatu kabur terbawa asap dan api jang lagi berkobar-kobar, tiada lama ia telah şampai didalam hutan Tikbrasara, terus langsung menudju ketempatnja sang Regawa dan Laksmana jang sedang remuk-redam hatinja itu.
Dewa gendut itu lalu bertreak-treak, ketawa terlakak-lakak sebagimana biasanja, seraja berkata:
„Hai tjutjuku, tjutjuku jang bagus, jang djelantir, lihatlah aku datang kepadamu.”