Lompat ke isi

Halaman:Drama di Gowa Kiskendo.pdf/35

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

— 33 —

Achirnja ia, dari sedih dan malu berobah mendjadi sangat gusar, disitu ia ambil putusan, dari pada saudaranja menderita sengsara dan hidup rendah demikian, lebih baik dibikin musna sadja dari muka bumi ini. Maka lalu ia mengambil anak panahnja, ditudjukan kearah monjet lelaki jong sedang peluk badan istrinja. Tapi ketika gendewanja sudah dipentang bundar, hatinja mendjadi ngenes sekali, ia tiada tega untuk membinasakan kakanda jang tertjinta itu, tjuma sebab putusannja sudah tetap don tahu bahwa itu benar, maka sembari menutup keduwa matanja ia lepaskan djuga sendjata itu. Tapi lantaran dilepaskan dengan mata meram, maka panah itu telah menjimpang, hanja mengenaken tjabang puhun dibowah tempat melangkroknja, jang djusiru ada berlepotan air mani monjet jang sedang melampiaskan tjintanja itu, maka benda itu lalu terbuntiang melesat keatas udara.

Melihat panahnja gagal, Laksmana sebagaimana biasanja darah satriya lalu mendjadi panas hatinja, maka ia lantas ambil pula anak panahnja jang sakti bernama Astra Surawidjaja, sendjata jang pernah membinasakan beribu-ribu raseksa, Sekarang sang Laksmana mendjudju dengan betul-betul, ia adalah seorang pendekar maharata, dapat melepaskan sendjatanja dengan naik kreta jang sedang lari sekentjeng-kentjengnja, maka sudah tentu intjerannja kali ini tiada meleset lagi, panah djimat itu dengan djitau mengenakan mukanja sang monjet lelaki jang sebelah. kanan, tapi untung ia-itu ada titisannja Betara Wisnu, maka serangannja sendjata itu adalah seupama linggis jang mengenakan paron besi, tjuma terdengar suara djemebret jang mengerikan, meledjit menjipat sumping dan anting-anting terus dibawa terbang tiada tahu kemana parannja.

Tapi sebab pukulannja panah Asira Surawidjaja itu ada bagaitu heibat, maka sang monjet mendjadi sangat terkediut lalu djatuh melajang kebawah dengan masih saling berpelukan, sesampainja diatas tanah telah babar ruwat pulang asal mendjadi manusia lagi.

,,Oh kakanda, kakanca,” demikianlah seruhnja sang Taruna itu'sembari memburu dan lalu peluk kaki saudaranjia dengan menangis keras sebagai anak ketjil. Sang Rama lalu peluk kepala adenja dengan perasa’an sangat terharu.

Begitulah adanja peristiwa itu, dan jang mengetahui lebih djaoh adalah tjuma Betara Bayu, oleh karena dialah jang menjanggapi ketika air mani sang Regawa terbuntjang keatas