Hanoman lalu diberi pakean jang indah-indah; dikasi gelang, kalung, djamang, kelatbau serba kentjana, sehingga ekornia pun dililit dengan emas dan batu permata. Romannja mendjadi bertambah garang dan tiakap sekeli, maka Betara Guru lalu kasih nama kepadenja Raden Prabeantjana, jang maksudnja: bertjahja sebagai emas, tapi djuga dapat diartikan: angin taufan jang penuh bintjana.
Sebentar sadja Hanoman mendjadi terkenal didalam kahjangan, Bidadari berebut-rebui saling undjuk tjintanja, Dewi Lotama membikinkan sumping dari kembang tjempaka mulia, Dewi Supraba kasih ontjen-ontien melati puspita, sementara, Dewi Sekermajang membelonichi bulunje dengan wewangion 'djebat kasturi.
Monjet putih itu mendjadji sombong karena diugung-ugung, hingga membikin Sang Hjuang Narada sirik hatinja. Pada suciu hari Betara Guru sedang berada didalam taman, itulah ada kesempetansjang baik akan Betara Norada mengganggu kepadanja.
,,Ade Guru," kata sang resi itu, ,kenapa ade Guru telah mengoakuhi monjet putih itu sebagai anak? Kalau kepingin anak, apatcah tidak ada lain makluk jang lebih baik ?”
Sembari bersenjum Seng Hjuang Diagadnata mendjawab :
,,Djikalau ada seorong anak perawan jang tiada berdjina fapi telah melahirkan anak, ia wadyjio mempersalahkan kepada Dewa, oleh karena Dewo adalah jang harus menanggund segald kedjadion didalam dunia. Hanoman terlahir dengan tiada mempunjai bapa, maka sajalah jang harus menonggung djawab.”
Betera Narada lalu ketawa terlakak-lakak, kemudian tiada berhentinja ia menjanji dan menjindir-njindir: ,,Ada Dewa beronak monjet ........ ada Dewa beromak kunjuk.......... ha, ha; ha, ha,........“
Betara Guru djadi mendongkol, maka diam-diam ia petik selembar daon dan ditimpukan kepada belakang lehernja Resi Narada, kemudian seraja tertawa ia berkata :
,,Kakang Narada, kau djangan mendjengeki sadja, sebab kau sendiri pun tiada beda ada mempunjai satu anak monjet.’
,,Tidak sudi, ha, ha, ha, tidak sudi, seribu kalih tidak sudi.......“
,,Djangan tekebur kata tidak sudi, rabahlah diitokmu sendiri, itu siapa?