— 29 —
,,Ibu, gadjah ketjil ada bapanja, tapi saja mana bapanja?" menanja Hanoman.
Dewi Handjani tiada dapat mendjawab, karena memang ia tiada tahu siapa sebenarnja bapa anaknja itu. Tapi Hanoman tiada mau mengerti, ia menggerijeng terus-menerus, hingga sang ibu mendjadi kaku hatinja, maka dengan mengutjap sedjadi-djadinja sadja ia berkata:,,Bapamu adalah Dewa." Perkata'an itu oleh Hanoman dianggap sesunggunja, maka lalu ia memaksa brangkat pergi ke Sorgaloka, akan mentjari ajahnja disana. Sudah tentu ia tidak diperkenankan masuk ke dalam gerbang Selamatangkep, jang didjaga oleh Betara Tjingkarabala dan Betara Balaupata, tapi keduwanja telah dihumbalangkan, maka mereka berlari-lari minta bantuan para pradjurit kadewatan jang lalu sama keluwar dengan lengkap sendjatanja, dikepalakan oleh Betara Tjitragada, Betara Sambu dan lain-lainnja, tapi mereka semua tiada satu jang dapat menahan madjunja Hanoman, sehingga Betara Brama sendiri keluwar dengan menggunakan apinja jang dapat meluluhkan bumi, tapi Hanoman dibakar semingkin djadi bertambah kuwat. Sedang geledeknja Betara Indra pun tiada dapat meruntuhkan maski selembar bulunja, seakan-akan besi jang dibakar dan digembleng, malah bertambah keras mendjadi badja.
Hanoman berpikir datangnja ada dengan maksud baik, tapi diterima dengan pengusiran dan pukulan jang demikian heibatnja, maka ia mendjadi marah sekali, ia mengamuk telah membikin hantjurnja segala apa didalam kahjangan, hingga geger tiada karu-karuan. Ia menjerang terus naik sampai di Harga dumilah, dimana ada bertempat Sang Hiuang Djagadnata sendiri, jang lalu menitahkan Betara Narada supaja membawa sang monjet putih itu kehadapannja. Didepan Betara Guru, Hanoman lalu duduk menjembah dengan sikapnja jang sopan-santun menarik hati, hingga Radja Dewa itu mendjadi sangat senang sekali, maka ia menanja :
,,Kau ada mengandung maksud apa, Hanoman, maka naik kemari dengan tidak dapat ditjegah lagi?"
,,Maha pukulun," djawab Hanoman seraja menjembah,,,saja datang menanjakan siapa adanja ajah saja?"
,,Kau adalah anakku," kata Betara Guru, maka berbareng itu lalu terdengar suaranja guruh diampat pendjuru, sebagai tanda bahua sabdanja Radja Dewa itu telah disaksikan oleh semista allam.