Ketika sang dewi tangisnja sudah redah, maka Resi Gotama lalu bersamedi menekung muhun kepada Sang Hjuang Wenang, jang mengabulkan perminta'annja, maka dalam sa'at itu djuga Retna Handjani telah melahirkan seorang djabang baji lelaki jang indah warnanja.
Berbareng itu, sang putri telah mendapatkan rasa sakit jang sangat heibat sehingga ia djatoh pangsan sesa'at lamanja, tapi ketika ia tersedar, lo parasnja sudah balik asal mendjadi tjantik-molek seperti dulunja lagi.
Sedih dan girang tertjampur mendjadi satu, maka Dewi Handjani lalu menangis tersedu-sedu, sembari mempeluk putranja jang baru lahir itu, tapi alangkah kagetnja ketika ia membelai-belai dengan tangannja, ia rasakan tubuhnja sang putra ada penuh dengan bulu jang sangat lunak, dan kemudian ketika diperhatikan ternjata ada ekornja.
„Djangan susah hati, Handjani,” kata sang ajah, „karena maskipun anakmu ini berupa monjet, tapi monjet kesuma, kemudian hari bakal mendjadi pendekar agung jang tidak bandingannja didalam dunia.”
Monjet itu lalu dikasih nama Hanoman, bulunja putih meletak seupama kapas digentang, matanja terang mengkredap-kredap hingga ketjakapan romannja mendjadi sampurna. Lekas sekali ia mendjadi besar, kekuwatannja luwar biasa, barang permainannja jaitu matjan dan banteng, sedang naga pun ia tangkap untuk kekalung dan sabuknja.
Kupingnja jang sebelah kanan oleh sang ibu lalu dipakekan anting-antingnja jang dulu ia dapat menemu, maka rupanja Hanoman djadi bertambah indah.
Pada suatu hari, datang dari memain didalam rimba, Hanoman menutur sang ibu: „Tadi saja menangkap saekor gadjah muda, mamahnja saja humbalangkan kepinggir rawa, tiada berani datang lagi hanja mendjerit-djerit sadja, tiba-tiba ada datang saekor gadjah lagi jang tjalingnja berkilat-kilat pandjang, kuwat sekali gadjah itu, sesudah saja patahkan tjalingnja barulah ia lari masuk kedalam hutan. Gadjah besar pertama memang saja tahu ada mamahnja gadjah ketjil, tapi gadjah jang bertjaling itu apanja, ibu, kenapa rupanja bagitu sajang kepada gadjah ketjil ?”
„Gadjah jang bertjaling itu adalah bapanja, ” djawabnja sang ibu.