kemari dengan menetes-netes darahnja, berlepotan ketjret diatas daon Wari. Achirnja kantjil itu masuk kedalam gerombolan daon jang ruponja asing itu, maka sang Rama lalu mengikuti dengan penuh perhatian, setelah tiba ditengah-tengah betul, kantjil itu menghampiri sebuwah puhun jang rupanja pun tiada beda dengan jang lain itu, pangkal ekornja jang putus lalu digosok-gosokan kepada puhun itu, maka dalam sesa’at sadja lantas mendjadi sembuh. Itulah Latoamaosandi, kata sang Rama dengan girang seraja menghampiri mustikanja segala tetumbuhan itu.
„Hai sang kantjil“, kata putra Ngayodyapala itu seraja mengangkat tangannja, „aku hutang kebaikan kepadamu, maka aku sabdakan: maskipun ekormu kutung tapi itu akan menambahkan kebagusan rupamu. Dan ketjerdikanmu itu jang telah dapat mengenali Latamaosandi, akan mendjadi milikmu terus sehingga berturun-turun, sebagai pudjangga didalam rimba. Ketjil badanmu, tapi kau akan disegani dan di‘indahi oleh seantero binatang didalam hutan.“
Kemudian daon wari jang berlepotan darahnja sang kantjil pun disabdakan: „Daon wari, warnamu sekarang mendjadi merah, tapi itu aken membikin kau sangat indah dan menarik hati. Namamu aku ganti mendjadi daon Waribang.“
Demikianlah, maa sabdenja sang Rama lalu terdjadi sehingga ini hari.
V.
Pekerdja’annja sang Rama sehari-hari, djikalau fadjar menjingsing ia dengan adenja turun pergi ke Imagiri, jang letaknja memang dikakinja Gunung Maliawan sisih Utara, akan memperhatikan lebih djaoh segala puhun obat-obatan jang sebagian besar masih belum dikenal kefaedahannja.
Atau kalau pagi-pagi sudah mulai turun hudjan, mereka berdiam sadja didalam pesanggrahan, merundingkan pengetahuan jang tinggi-tinggi, djaja-kawidjajom, kasusastran, kabudajan dan lain-lain jang berguna untuk penghidupan. Tapi djika sang malam telah datang meliputi angkasa, sang Rama lalu mendjadi ingat lagi kepada istri djelita jang telah hilang itu, sekarang entah bagaimana keada'annja, oh Dewa, Dewa, demi-