- 23 -
tentram, sedang bungahnja dapat menghilangkan angin. Puhun jang eilok rupanja itu, namanja Keningar atau Manisdjangan, kulitnja terpake untuk mengusir angin didalam badan, baunja harum dan rasanja manis. Itu lagi, puhun jang tinggi langsing, namanja Kaju-putih, daonnja mengandung minjak jang sangat baik untuk menghilangkan dingin, kulitnja dapat menjembuhkan segala luka-luka diatas badan. Dengan tiada merasa mereka berdjalan makin ketengah.”
„Ini namanja Kapolaga,” kata pula sang Rama, „baik sekali untuk mengusir angin dan hawa dingin didalam badan. Itu lagi namanja Tjengkeh, rasanja harum dan pedes, berguna untuk menjingkirkan hawa busuk didalam perut. Dan itu pula jang dinamakan Meritja, sifatnja panas dan rasanja pedes sekali. O adinda, boleh djadi tempatnja Latamaosandi tiada terlalu djaoh lagi, sebab tetumbuhan disini sudah mulai tandes dalam sifat dan rasanja.”
Mereka mengusut makin bernapsu, apa pula ketika menampak ada sebuwah kaju jang rasanja sanget pait. „Ini namanja Widaraputih atau Widaralaut, wataknja bersih dan dingin sekali, baik untuk menjehatkan badan, kalau diminum pada waktu hawa panas, tubuh dan pikiran akan mendjadi segar dan tentram. Dan itu, namanja Butrawali, paitnja bukan buatan, hingga djikalau diminum tjukup banjak, njamuk pun tiada brani menggigit lantaran kringatnja turut berasa pait. Obatnja sakit demam, kalau diperes airnja dapat menjembuhkan sakit mata jang sudah bernanah.”
Liwat dari situ, lalu tertampak suatu tempat jang terbuka, tiada dinaungi oleh puhun-puhun besar lagi, jang hidup disitu hanja tetumbuhan ketjil jang tingginja kurang-lebih satu meter sadja, beribu-ribu batang tapi tjuma sematjam sadja bangsanja, jaitu suatu puhun jang Regawa belum pernah melihat hingga tiada tahu apa namanja. Apatah itu Latamaosandi? Bisa
djadi, karena wudjudnja bagus sekali. Akan tetapi Latamaosandi diseluruh allam hanja tjuma ada satu batang, kenapa sekarang bagitu banjak tumbuhnja? Kebetulan waktu itu ada saekor binatang kantjil sedang didis dibawahnja puhun Pule, maka Rama lalu manitahkan Laksmana mendjudjukan panahnja, tapi dipesan supaja dikenakan sadja ekorja. Tangannja Laksmana adalah sudah mateng dalam latihan, maka tiada kurang tiada lebih tepat kena pangkal ekornja kantjil itu sehingga putus. Sang kantjil mendjadi kaget dan kesakitan, ia lari kesana-