- 19 -
Larinja bangsa durbiksa itu dibarengi dengan angin pujuh, maka sekalian binatang liar pun sama bubar kemana-mana, sedang bangsa gegremetan sebagi kaladjengking, ketonggeng dan lain-lain pun sama sembunji masuk kedalam lobang-lobangnja.
Huru-hara dan hiruk-pikuk itu, telah membikin bangun seorang radja siluman jang sedang tidur didalam sebuwah djurang, siluman itu besarnja bukan buatan, kepalanja sadja sebesar bukit, hingga djurang jang untuk tidur itu mendjadi penuh dengan badannja, sebagi saekor babi jang melesek didalam krandjangnja. la pun merasakan hawa jang sangat panas, maka ia mendjulurkan kepalanja melihat kesekuliling djurusan, apa mau kebetulan sang Rama dan Laksmana pun telah tiba dilamping atasnja djurang itu, maka kagetnija mereka bukan alang-kepalang, menampak suatu muka jang besarnja tiada terkira-kira, bagitu heibat gigi dan tjalingnja.

Ketika raseksa itu mengangkat keduwa tangannja hendak menangkap mereka, tangan itu tingginja setengah moga, hingga mereka mesti mendongkak keatas untuk melihatnja, sigra keduwa-duwanja lalu pentang gandewanja, Rama mendjudju tangan jang kanan, Laksmana jang kiri, dan panah itu semuanja djitu mengenakan nadinja, maka lalu menggigil gemeteranlah