Lompat ke isi

Halaman:Drama di Gowa Kiskendo.pdf/19

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

- 17 -

„Hai satriya jang kedji,” kata Subali dengan mulut berbusa, „kau sudigawe sekali tjampur urusan orang lain. Aku sedang berklai dengan sudaraku sendiri, kenapa kau turut membantui kepadanja, membunuh aku jang tidak pernah ada sangkut-paut urusan apa pun kepadamu ?”
Sang Rama mendekati seraja berkata: „Subali, ingatlah, kau ada seorang resi jang mistinja berhati sutji, kenapa kau merampas istrinja ademu dan merebut keradja'annja? Aku adalah satriya Rama dari Ngayodyapala, membantu jang benar, membinasakan jang salah, itulah ada darma kewadjibanku. Guawidjaya djika sudah terlepas tiada akan balik dengan tiada membawa korban, akan tetapi korban itu misti orang jang berdosa, djikalau orang itu sutji dan benar, Guawidjaya akan mendjadi puntul dengan sendirinja.”
„Oh, Rama, perkata'anmu itu betul belaka,” kata Subali seraja berlinang-linang air matanja, „sekarang tiba-tiba aku djadi mendusin atas perbuatanku sendiri jang salah. Sugriwa, kemarilah, aku beri nasehat kepadamu, djundjunglah satriya itu sebagi Dewamu, sebab ia adalah titisannja Betara Wisnu, berbahagialah siapa jang mengabdi kepadanja.”
Setelah itu, dari lukanja Subali lalu mulai keluwar mengalir darahnja jang berwarna putih dengan menghamburkan bau jang sangat harum, dan tidak lama kemudian Subali lalu menghembuskan napasnja jang paling pengabisan. Sang Regawa dengan diturut oleh Laksmana dan Sugriwa lalu menghormati sukma jang brangkat itu dengan sesanti djaja-djaja.
Djinasahnja Resi Subali lalu dibakar, kemudian mereka masuk kedalam kraton Gowakiskenda, dimana mereka dapatkan sang permaisuri Dewi Tara sudah beranak seorang monjet lelaki, rupanja tjakap dan gagah perkasa, jang oleh sang Rama lalu diambil putra, diberi nama Raden Hanggada.
Sugriwa lalu duduk pula mendjadi radja di Gowakiskenda, tiap hari melatih balatentaranja, sedia akan nanti digerakan menggempur negeri Alengkadiredja.