- 9 -
Djatayu gerakannja tidak laluasa lagi, karena ia sembari melindungi dirinja sang putri, maka ketika Dasamuka menimpahkan tjandrasanja, Djatayu tjuma dapat berkelit sedikit, luput kepala tapi kena sajapnja hinggah putus sebelah. Berbareng itu Rahwana telah merebut kembali Dewi Sinta dari genggemannja Djatayu, jang kendati longgar tapi tidak dapat dibuka, maka djari-djari itu telah dipatah-patahkan lebih dulu, kemudian sembari menggendong korbannja Rahwana tertawa melandjutkan perdjalanannja menudju kesebelah Selatan.
Tubuhnja Djatayu melajang kebawah makin pesat dan achirnja telah djatoh ditengah rimba raja, suaranja menggeleger seupama bukit ketjemplung didalam samudra. Tubuhnja hantjur, tapi ia menahan njawanja, menunggu sehingga Rama datang sampe disitu.
Tapi ternjata Djatayu tjuma dapat menuturkan sebagian sadja, ia belum menerangkan namanja raseksa maling itu, sedang nama negerinja pun baru diutjapkan separo, keburu ia
sudah meninggal dunia, hingga pikirannja sang Rama misih tetap dalam kegelapan.
Oh radja burung jang setia, ia mati dalam djalan utama, mati membela sobat, membela kebenaran, salah satu djalan dari kematiannja seorang satriya. Maka pintunja Sorgaloka poen
lalu terbuka, dari mana kedengaran suaranja gamelan Lokananta, dibarengi dengan njanjian pudji djaja-djaja dari para Resi, Gandarwa dan Bidadari sebagi kehormatan atas kedatangannja seorang sukma jang agung dan mulia.
II.
Negeri Aleng.........? dimanatah letaknja negeri itu ? oh, pikirannja sang Regawa mendjadi tambah gelap, oleh karena tahu sebagian adalah lebih sengsara dari tiada tahu sama sekali.
Bersama sang ade ia berdjalan terus, sehingga mereka sampai disuatu tempat terbuka, dari mana kelihatan sebuwah gunung jang sangat tinggi, warnanja hidjau suatu tanda bahua hutan tetumbuhannja amat subur. Tjuma ada sedikit aneh, dibawah dan diselagannja warna hidjau itu ada bergumpal-gumpal warna hitam jang tidak ada putus-putusnja. Benda apatah