Lompat ke isi

Halaman:Drama di Gowa Kiskendo.pdf/10

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

- 8 -

„Bhuta perampok,” kata ia pula, „djikalau kau tidak mengembalikan aku, kau tentu bakal binasa. Suamiku dan iparku ada satriya jang gagah perkasa, putra Ngayodyapala jang kesaktiannja tidak ada bandingnja, mereka tentu akan menjusul dan maski kau sembunji didalamnja Saptapertala, tidak urung kau akan remuk diudjung sendjatanja.”
Rahwana tjuma ketawa bekakakan, tidak tahu benda jang mendekati tadi sudah berada diblakangnja, ketika mendengar sesambatnja sang putri jang menjebut-njebut namanja putra Ngayodyapala, lalu mendjadi beringas matanja menjala sebagi api. Ternjata ia itu adalah radja burung Djatayu, jang kaduwa sajapnja terpentang seakan-akan mempenuhkan tjakrawala, bulunja warna kuning sebagi emas jang berkilau-kilauan tjahjanja.
Dengan ketjepatan sebagi kilat burung itu menerkam Dasamuka. Tjutjuknja jang sebagi goenting wadja mematok leher kemudian ia menelampak dengan sajapnja jang bisa membikin hantjurnja sebuwah gunung karang. Serangannja ada bagitu dahsjat, maka sewaktu itu djuga Dasamuka telah mendjadi tiwas dan tubuhnja djatoh kebawah. Berbareng sang Dewi pun terlepas, tapi badannja enteng maka melajang-lajang seperti sutra. Djatayu lalu menjamber disebelah bawahnja dengan badan tjelentang, dadanja jang berdulu alus dan empuk sebagi kasur bludru, digunakan untuk menjanggap tubuhnja sang putri, kemudian kakinja pegang tubuh jang tjantik itu dengan sangat perlahan, kuatir kukunja jang tadjam nanti membikin luka kulitnja.
„Djangan takut, putri Mantili, kau ada didalam perlindunganku.” kata sang Djatayu, tapi ia tidak njana bahua sang Rahwana sudah berada dibelakangnja, karena ia ada mempunjai kesaktian adji Rawarontek dan Pantjasona, maski sudah binasa kalau tubuhnja kena tanah dan mendapat silirannja angin, sigra ia akan hidup kembali. Dan Rahwana mendjadi gusar sekali, berbareng itu kepalanja lalu timbul sepuluh tangannja mendjadi duwa puluh, masing-masing pegang sendjata, terbang memburu musuhnja dengan suara menderum-derum laksana guntur. *)


  • ) Kesaktian itu Rahwana dapat menipu dari kakanja, jaitu Maharadja Bisawarna, jang kemudian telah binasa disamber geledek, karena daja kedjahatannja Rahwana djuga, dibantu oleh sukmanja Dewi Sakesi jang merasa penasaran. Batjalah buku : „Drama di Lokapala“.