„DENDANG² MAKASSAR”
25
dirinja. Giok-lan teroes menoetoep pintoe akan orang penggoda atas hidoepnja. Ia tetap menerima dan teroes mendjalankan „bakti” terhadap soeami dan orang toeanja . . . .
Satoe-satoe kali Giok-lan ditanja oleh seorang kawannja:
„Giok-lan, apa sebetoelnja kau beroentoeng dan poeas hidoepmoe?” menanja Tjong-goan . . . .
„Pertanjaan itoe tida oesah saja dijawab dengan perkataan. Sebagai manoesia kau tentoe paham ‘nko Tjong-goan, saja telah meloenaskan kewadjiban saja terhadap soeami dan orang toea. Boekankah ini berarti kebroentoengan jang abadi?”
„Tetapi berapa lama kebroentoengan jang palsoe itoe dapat kau pertahankan Giok-lan?” menanja poela jang tetep perasaannja melawan.
„Kewadjiban haroes diseleseikan sampe pada achir-penghidoepan,” mendjawab Giok-lan.
„Tida bisa ’djo . . . . ” kata Elvira jang hendak mempastikan apa jang belon terdjadi.
„Sebagai seorang anak jang oehauw, kau Giok-lan, terlaloe berhamba kepada kewadjiban. Tetapi ada satoe ketika kau nanti berontak dan melawan. Kau tida bisa manda terboenoe, dan teroes terboenoe. Beratnja pikoelan kewadjiban akan sampe pada babak-achir, dan kau nanti menjerah terhadap kewadjiban oentoek dirimoe sendiri,” kata Kiem-djoe, jang begitoe sympathie terhadap Giok-lan, hingga ia berkata terlaloe teroes terang. Perasaan dalam sanoebarinja diobral dengan merdeka dimoeloetnja.
Dengan pelahan dan pasti Giok lan moelai mengenal dirinja sendiri . . . .
*