masyarakat (konvensional) yang menganggap pekerjaan perempuan hanya berkisar antara sumur, kasur, dan dapur. Pandangan itu merupakan stereotip gender yang sangat ditentang oleh kaum feminis. Feminisme menginginkan persepsi masyarakat yang adil dan seimbang antara perempuan dan laki-laki. Perempuan harus diberi kesempatan untuk memajukan dan mengembangkan diri, sama dengan laki-laki. Perempuan juga harus diberi kepercayaan untuk menunjukkan eksistensinya dalam lingkungan karier, ekonomi, dan pendidikan.
Jika dikaitkan dengan persoalan perempuan, masyarakat bisa saja memihak kepada mereka atau bahkan memojokkan mereka. Masyarakat dalam novel ini adalah penduduk Meliling, dalam ruang lingkup kecilnya serta masyarakat Bali, dalam lingkup yang lebih besar. Mereka bisa saja menjadi pendukung kaum feminis atau bahkan penentang bagi ideologi yang diyakini oleh kaum pembela hak perempuan tersebut.
Dalam bagian ini akan dilihat pandangan dan perlakuan masyarakat terhadap para tokoh perempuan, khususnya Putri, sebagai tokoh utamanya. Dalam pandangan sebagian besar penduduk Meliling, Putri yang bersekolah dan berpendidikan tinggi dianggap menyalahi kebiasaan yang berlaku di kampung mereka. Mereka cenderung mencemooh Putri, yang hanya seorang perempuan, melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Keinginan Putri untuk maju dan memperbaiki kondisi masyarakat kampungnya, yang sebagian besar hidup sebagai petani, disambut dengan kebencian oleh masyarakat. Mereka tidak mau dan tidak rela, jika mereka digurui oleh seorang perempuan. Akan lain halnya, jika yang bersekolah dan memiliki pikiran yang maju itu adalah laki-laki, bukan perempuan. Mereka mungkin akan dengan senang hati menerima perubahan yang ditawarkan. Bagi mereka, perempuan tetap perempuan. Berapa pun tingginya pendidikan seorang perenipuan, tempat mereka adalah di rumah, menjadi ibu dan mendidik anak-anaknya.
Kenyataan sebagaimana yang telah diungkapkan itu merupakan suatu tindakan yang sangat ditentang oleh kaum feminis. Mereka sangat menentang masyarakat, terutama masyarakat yang hidup dalam budaya patriarkat, yang cenderung melecehkan dan menjadi pendukung subordinasi perempuan. Perempuan yang maju di mata masyarakat itu adalah si penentang kodratnya sebagai perempuan. Hal itulah yang sangat ditentang oleh kaum feminis. Perjuangan mereka untuk membebaskan perempuan dari keterbelakangan dan ketergantungan terhadap orang lain, terutama laki-laki tidak akan berhasil, jika masyarakat seperti itu masih