seperti tidak memiliki tanggung jawab terhadap keluarga. Nyomanlah yang setiap hari bekerja keras membanting tulang menghidupi keluarganya. Sementara itu, Made Sukada hanya bisa duduk diam dan keluyuran ke mana-mana. Yang paling menyakitkan adalah perbuatannya yang dengan terang-terangan berhubungan dengan perempuan lain. Sementara istrinya bekerja keras, ia malah asyik dengan perempuan simpanannya.
Apa yang dilakukan oleh Made Sukada sangat ditentang oleh Putri, juga oleh kaum feminis yang sangat menentang segala bentuk kesewenang-wenangan dan pelecehan terhadap perempuan. Laki-laki seperti itu tidak dapat menghargai perjuangan seorang perempuan, tidak menghormati harkat dan martabat seorang perempuan. Baginya, perempuan adalah lahan untuk menyenangkan diri. Jika ia bisa mendapatkan sesuatu secara materi dari seorang perempuan, untuk apa ia harus bekerja keras. Setiap hari ia tidak pernah kekurangan makan dan anaknya pun tumbuh sehat. Untuk apa ia bekerja keras, jika sudah ada orang lain yang mau melakukan itu.
Sikap laki-laki seperti itulah yang sering membuat perempuan terpojok pada posisi yang tidak menguntungkan. Di satu sisi, untuk keharmonisan keluarga, perempuan cenderung membiarkan, tetapi di sisi yang lain, sebagai manusia biasa yang juga mempuyai batas kesabaran, ia ingin berontak. Ia ingin lepas dari ketidakberdayaan itu. Namun, pada akhirnya, banyak perempuan, seperti Nyoman memilih pasrah pada kondisi itu. Mereka tidak ingin merusak ketenteraman keluarga dengan pemberontakannya. Itulah yang sangat ditentang oleh kaum feminis. Segala bentuk pelecehan harus dilenyapkan. Membiarkan tindakan pelecehan, seperti apa yang dilakukan oleh Made Sukada, sama saja dengan melanggengkan perbuatan itu terjadi. Dengan melanggengkannya, berarti perempuan ikut andil dalam tindakan pelecehan terhadap dirinya sendiri.
3.2 Masalah Feminisme yang Terungkap dalam Latar Sosial dan Budaya
Masalah feminisme yang terdapat dalam latar ini adalah masalah feminis yang timbul akibat ketimpangan persepsi yang berhubungan dengan latar sosial dan budaya. Anggapan tentang perempuan yang harus menerima kodratnya, seperti tidak perlu mendapat pendidikan formal dan melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, merupakan akibat dari pandangan