Lompat ke isi

Halaman:Citra Perempuan dalam Novel Putu Wijaya Kritik Sastra Feminis.pdf/85

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

Sebenarnya sudah sejak lama Sadra menyimpan rasa suka kepada Putri. Ia sangat mencintai adiknya itu, bukan cinta seorang saudara, melainkan cinta lelakt dewasa kepada perempuan idamannya. Setiap hari ia memupuk rasa itu dan selalu terobsesi dengan perasaannya. Setiap kali ia berhadapan dengan Putri, ia tidak dapat menahan gejolak kelelakiannya. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam tubuhnya, setiap ia berdekatan dengan Putri. Nafsu yang telah menguasai dirinya itulah yang telah membuatnya beberapa kali mencoba memperkosa Putri. Akan tetapi, ia selalu gagal. Putri selalu lolos dari pemerkosaan tersebut. Sampai akhirnya, Sadra dikebiri oleh penduduk desa karena ketahuan akan memperkosa Putri.

Di satu sisi, kekaguman Sadra dan dorongannya kepada Putri untuk maju merupakan tindakan yang patut dipuji. Ia tidak pernah mempersoalkan Putri, yang hanya seorang perempuan, memperoleh Pendidikan tinggi, sementara ia yang laki-laki hanya bisa puas dengan kehidupan desa. Tidak seperti layaknya penduduk desa lainnya, Sadra tidak pernah mencemooh ataupun mengejek apa yang dilakukan Putri. la Sangat mendukung setiap cita-cita yang keluar dari pikiran maju adik sepupunya itu. Namun, di sisi Jain, perasaan cinta yang telah memperdaya dirinya, yang kemudian berkembang menjadi nafsu berahi memaksanya untuk melakukan pelecehan terhadap Putri. Tindakan percobaan perkosaan yang beberapa kali ia lakukan adalah sebuah pelecehan terhadap Putri, pelecehan terhadap kaum perempuan. Ia tidak dapat memisahkan antara perasaan cinta yang Suci dan nafsu berahi. Itulah yang membuat dia gelap mata dan melecehkan Putri.

Jika saja banyak laki-laki yang berperilaku seperti Sadra, berapa banyak perempuan yang akan terlecehkan? Berkedok cinta, tetapi pada kenyataannya hanya ingin melampiaskan keinginan seksualnya saja. Makna cinta tidaklah sesempit itu. Cinta bukan hanya sebatas kontak fistk, melainkan lebih pada sebuah ikatan emosi yang kuat antara laki-laki dan perempuan. Itulah yang diyakini oleh Putri, yang tidak disadari oleh hampir seluruh pemuda meliling, termasuk Sadra. Bagi mereka, cinta adalah kontak fisik dan hubungan badan. Oleh karena itulah, banyak gadis Meliling yang tidak perawan lagi.

3.1.2.6 Made Sukada

Made Sukada adalah adik ipar Putri, suami Nyoman. Ia adalah tipe kebanyakan-laki Bali, yang selalu menyandarkan hidupnya pada perempuan, istrinya. Walaupun sudah memiliki anak, ia tetap saja berperilaku layaknya seseorang yang masih bujangan. la

73